Popular Posts

Monday, April 16, 2007

IMAM HUSSEIN AS

Hussain Cinta Hussain Syahid Hussain di
Nainawar

Mengalir darah..Haruman Syurga..
Alam bersaksi pengorbanan dewa Karbala

Hussain Cinta Hussain Syahid Hussain di
Nainawar

Bergema suara memanggil ke Syurga indah
Didatangi Rasul diiringi ALi Fathimah
Menjemput Putera Cahaya Pemiliknya Syurga
Menjemput Putera Penghulu Pemuda Syurga

Maula Ya Hussain..Maula Ya Hussain..
Maula Ya Hussain..Maula Ya Hussain..

Kala kerinduan Imam menatap wajah mu
Kerna kesucian mirip wajah Rasulullah
Salam terakhir ayah ku datuk ku telah tiba
Menghilangkan dahaga ku untuk selamanya

Ya Ali Akhbar..Ya Ali Akhbar..
Ya ALi Akhbar..Ya Ali AKhbar..

Duhai para panglima Karbala oh Karbala
Korban kehausan menuju puncak syahadah
Hinnga mengecap minuman dari gelasnya Syurga
Si kecil dahaga dihujankan tombak dan panah

Ya Ali Asghar..Ya Ali Asghar..
Ya Ali Asghar..Ya Ali Asghar..

Allah anugerahkan pada mu sayap cahaya
Demi menggantikan dua lengan yang terpisah
Kau membawa kantung air untuk Imam Mulia
Akhirnya kau gugur dipanah dada dan mata

Abu Fadl' Abbas..Abu Fadl 'Abbas..
Abu Fadl 'Abbas..Abu Fadl 'Abbas..

Para Malaikat menangis dengan syahdu hiba
Tika kelihatan Izrail di langit dunia
Lemah mengorak langkahnya titisan airmata
Dengan duka jiwa kau menjemput Raja Syahadah

Maula Ya Hussain..Maula Ya Hussain..
Maula Ya Hussain..Maula Ya Hussain..

Jenazah Suci yang dimandikan dengan darah
Dikafani kalian dengan debunya tanah
Keluarga al-Musthofa Pemilik al-Quran Mulia
Bersemadi jasad suci tubuh tanpa kepala

Mazlum Ya Hussain..Mazlum Ya Hussain..
Mazlum Ya Hussain..Mazlum Ya Hussain..

ucapan Sayyid Ali Khamenei

Sunday, April 15, 2007

Surat Terbuka Ayatullah Makarim Syirazi kepada Ulama Wahabi


Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa bulan yang lalu terjadi peristiwa yang sangat aneh dan langka di sebagian negara-negara Islam. Pada tanggal 16 Dzul Qa'dah 1427 H sebuah kelompok yang terdiri dari 38 ulama dan dosen menandatangani sebuah deklarasi. Ulama dan dosen Wahabi ini berasal dari universitas Ummul Qura dan universitas Malik Su'ud serta sebagian kecil dari sebagian wilayah Arab Saudi lainnya. Deklarasi itu adalah fatwa untuk membunuh orang-orang Syiah Irak dan Syiah seluruh dunia! Mereka menuduh orang-orang Syiah adalah Rafidhi Safawi, sekutu Amerika dan pelindung Israel yang membunuhi orang-orang Ahli Sunah.

Pada poin pertama dari deklarasi itu, setelah pendahuluan, perlu adanya mobilisasi terhadap media-media Arab untuk menyampaikan kepada seluruh kaum muslimin di dunia bahwa Syiah itu berbahaya. Syiah harus dicitrakan membunuh orang-orang Ahli Sunah. Tunjukkan bahwa orang-orang Ahlus Sunah adalah orang-orang yang dianiaya. Deklarasi ini menyebutkan bahwa Syiah Irak ingin memecah negara Irak menjadi negara-negara kecil. Kawasan Selatan yang kaya milik Syiah, Utara dikuasai oleh Kurdi dan kawasan kecil di pusat Irak menjadi milik Ahli Sunah. Dalam lanjutannya disebutkan bahwa apa yang diambil secara paksa, maka harus direbut secara paksa juga. Perang adalah pilihan pertama dan Irak harus direbut dari Syiah. Bahkan orang-orang Kurdi juga harus dikeluarkan dari Irak.

Pada poin kedua disebutkan bahwa para pemikir dan ulama harus dimaksimalkan untuk berbicara di masjid dan pertemuan-pertemuan khusus atau umum. Mereka harus menjelaskan hakikat yang selama ini tersembunyi. Mereka harus menekankan kemazluman Ahlus Sunah agar orang-orang Ahlus Sunah bangkit melawan Syiah.

Pada poin ketiga diserukan kepada seluruh orang-orang Ahlus Sunah untuk membantu Ahlus Sunah Irak sekuat tenaga, baik uang maupun persenjataan.

Poin keempat meminta kepada seluruh kelompok-kelompok Ahlus Sunah di Irak untuk bersatu demi menghadapi Syiah. Istilahnya adalah menghadapi taghut Amerika, Rafidhi dan sekutu mereka. Ketiga kelompok ini harus dihancurkan. Maksud dari sekutu mereka adalah orang-orang Kurdi dan sebagian orang-orang Ahlus Sunah yang moderat.

Poin kelima menyebutkan agar tidak boleh putus asa untuk menyebarkan semangat ini. Dalam masalah ini harus aktif. Karena masa kebatilan hanya sesaat, sementara kebenaran akan kekal hingga hari kiamat.

Belum pernah dalam sejarah Islam, ada fatwa yang semacam ini. Memerintahkan untuk perang saudara sesama muslim dan membunuh orang-orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Syiah sendiri meyakini bahwa mengalirkan darah seorang muslim; baik itu Syiah maupun Sunni, adalah sebuah dosa besar yang tidak terampuni.

Sekalipun ancaman semacam ini ada, kami tidak pernah takut sedikit pun. Di hadapan sikap dan aksi kekerasan yang tidak manusiawi ini, kami mengulurkan tangan persaudaraan. Kami akan mengatakan kepada mereka: "Saudaraku! Kalian telah salah jalan. Musuh kita orang lain". Bila kalian tetap ingin menjalankan rencana kalian, niscaya Islam tidak tersisa lagi. Sebagai saudara, kami ingin menasihati kalian: "Lebih dari ini jangan lagi kalian rusak Islam ini! Jangan kalian memperkenalkan Islam sebagai agama kekerasan dan hanya milik orang-orang bodoh!

Terlepas dari semua itu, kenyataan keji dan berbahaya ini harus dipikirkan oleh semua kaum muslimin. Ada baiknya bila merenungkan beberapa poin berikut:

1. Deklarasi ini mengajak untuk membunuh saudara sendiri dan ratusan juta jiwa kaum muslimin. Deklarasi ini telah membunyikan tambur peperangan. Di seluruh dunia, Islam diperkenalkan sebagai agama kekerasan dalam bentuknya yang paling ekstrim. Hari ini, deklarasi ini menunjukkan bahwa musuh paling berbahaya adalah cara berpikir Wahabi ekstrim. Cara pandang yang melihat bahwa Syiah dan Ahlus Sunah sama-sama kafir. Yang Islam hanya mereka saja. Ini dapat ditelusuri dalam buku Muhammad bin Abdul Wahhab. Mayoritas Ahlus Sunah juga sangat tersiksa menghadapi mereka.

Sangat disayangkan, cara berpikir yang mendahulukan kekerasan sangat menghambat kemajuan Islam di dunia. Bahkan cara berpikir semacam ini menjadi problem besar dunia Islam sekarang. Padahal, dunia saat ini siap menerima Islam. Namun, bila mereka telah dekat dengan Islam, mereka melihat sekelompok kaum muslimin yang hobinya melakukan aksi teror dan tindak kekerasan. Sesaat mereka berbalik dari Islam.

2. Wahabi memperkenalkan Amerika sebagai salah satu dari faktor yang membahayakan stabilitas keamanan di Irak. Kami juga meyakini hal yang demikian. Namun semua tahu bahwa sebagian dari negara-negara Islam secara praktis merupakan sekutu Amerika di Timur Tengah. Orang-orang Amerika dengan bebas bisa berkeliling di negara-negara Arab itu terserah kemauannya. Mengapa Wahabi tidak memerangi mereka? Mengapa Wahabi menerima mereka dengan tangan terbuka, sementara di Irak mereka ingin mengangkat senjata berperang melawan Amerika?

3. Sesuai dengan pernyataan mereka bahwa Rafidhi Safawi adalah sekutu Amerika dan pembela Israel. Apakah mereka dapat memberikan keterangan mana negara Islam yang bertahun-tahun memutuskan hubungannya dengan Amerika dan diembargo? Masyarakat mana di Lebanon yang mampu mengalahkan Israel? Dan siapa yang selama ini mengadakan kerja sama dengan Israel? Ketika Hizbullah berperang melawan Israel, siapa yang mengharamkan segala bentuk bantuan kepada Hizbullah?

4. Apakah orang-orang Ahlus Sunah Irak dibunuh oleh Syiah, ataukah orang-orang Ahlus sunah dan sekutu mereka dari sisa-sisa anggota partai Ba'ts yang membantai orang-orang Syiah?

Apakah Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir Al-Hakim bersama tiga ratus orang di Najaf berasal dari Ahlus Sunah?

Apakah lebih dari seribu orang di Kazhimain yang tewas berasal dari Ahlus Sunah?

Kematian paling mengenaskan dalam beberapa tahun terakhir ini di Hilla. Di sana tewas 400 orang dan semuanya dari Syiah. Apakah pembantaian ribuan orang yang terjadi di Kufah, Karbala, Najaf dan Hilla dilakukan juga oleh orang-orang Syiah?

5. Kalian mengatakan bahwa apa yang diambil secara paksa harus direbut kembali secara paksa. Tahukah kalian bahwa pemerintah Irak saat ini terbentuk setelah melalui pemilihan bebas yang diawasi oleh pengawas internasional. Setelah itu dipilih secara demokrasi anggota parlemen, presiden dan perdana menteri. Hal yang belum pernah terjadi di negara Arab Saudi, tempat tinggal kalian. Kalian mengatakan bahwa mereka mengambil kekuasaan dengan kekerasan. Apakah kalian ingin mengatakan bahwa negara kalian adalah negara yang muncul berdasarkan demokrasi?

6. Mungkin akan sangat baik sekali bila kita menengok data statistik yang ada. Irak terdiri dari lebih dari 60 persen Syiah, 20 persen Kurdi sunni dan 20 persen Arab Sunni. Dengan data ini, kalian ingin mengatakan bahwa 20 persen Arab Sunni harus berkuasa atas 80 persen dari jumlah penduduk Irak lainnya? Itupun dengan kekerasan? Selain itu, pekerjaan seperti itu di dunia kini adalah tidak mungkin. Tidak masuk akal dan juga tidak logis. Buat seorang awam saja hal ini tidak masuk akal, bagaimana bisa para ulama dan dosen percaya dengan logika seperti ini?

7. Siapa yang membuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad SAW?

Siapa yang menulis buku ayat-ayat setan dan siapa yang melindungi penerbitan buku itu?

Siapa yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan dan barbar?

Siapa yang menguasai Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin dan menjadikannya sebagai ibu kotanya? Saat ini, tanah-tanah kaum muslimin di bawah cengkeraman tentara mereka.

Kalian meninggalkan semua itu dan mengobarkan peperangan sesama kaum muslimin yang manfaatnya kembali kepada musuh-musuh Islam.

Apakah rasa cinta kalian kepada agama yang memerintahkan kalian melakukan hal ini?

8. Deklarasi yang kalian tanda tangani bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran dan hadis.

Apakah kalian lupa Al-Quran mengatakan: "Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan 'salam' kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya)" (Nisa': 94).

Apa yang membuat kalian ingin membunuh kelompok besar dari kaum muslimin yang beriman sebagai kafir? Mereka yang punya andil besar untuk perkembangan serta kemajuan Islam.

Apakah kalian telah lupa dengan hadis yang disampaikan berulang-ulang oleh Nabi Muhammad saw: "Siapa saja yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka jiwa, harta dan kehormatannya dilindungi". Mengapa kalian menginjak-injak hadis ini?

Apakah kalian lupa Allah berfirman: "Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu" (Anfal: 46). Apakah dengan perang yang ingin kalian kobarkan di Irak yang hasilnya adalah tewasnya kaum muslimin dari kedua belah pihak tidak membuat kaum muslimin menjadi lemah di hadapan musuh Islam?

9. Bila klaim kalian benar, mengapa kalian tidak mengamalkan ayat yang berbunyi: "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya" (Hujurat: 9) Mengapa kalian malah mengobarkan perang, padahal pihak lain mengulurkan tangan persahabatan terhadap kalian? Apakah perilaku seperti ini sesuai dengan al-Quran?

Dalam deklarasi yang kalian tanda tangani tersisip sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan dalam buku Sahih Muslim. Nabi Muhammad saw bersabda: "Allah menjanjikan bahwa musuh Islam tidak akan dapat menguasai kaum muslimin. Bila ada masalah yang terjadi, maka itu muncul dari perselisihan kaum muslimin sendiri"!

Kalian menukilkan hadis ini, tapi mengamalkan sebaliknya!

Apakah Nabi Muhammad SAW tidak pernah memberikan aturan dalam berperang bahwa ketika berperang melawan kaum musyrikin, anak-anak dan wanita jangan dibunuh. Bagaimana mungkin kelompok dari kalian melupakan aturan Islam yang sangat manusiawi ini, ketika menghadapi sekelompok dari kaum muslimin? Dengan teror, kalian membantai semuanya.

10. Bila sebagian dari kepala-kepala negara Islam tidak mengindahkan aturan Islam ini, masih dapat diterima. Tapi, bila itu tidak diperhatikan oleh orang-orang yang disebut sebagai ulama sangat mengherankan. Mudah-mudahan mereka tidak diperalat oleh pemerintah.

Al-Quran menyebutkan bahwa pembunuhan terhadap seorang muslim mendapat laknat dari Allah, azab ilahi yang sangat pedih dan bakal kekal di neraka. "Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya" (Nisa': 93).

Sesungguhnya, ayat ini membuat orang yang mendengarnya bergetar. Bila seseorang menjadi penyebab bagi terbunuhnya ribuan bahkan jutaan kaum muslimin, apa yang bakal diterimanya di hari kiamat?

11. Deklarasi yang kalian tanda tangani menunjukkan bahwa kalian mengidap penyakit buruk sangka kronis terhadap Syiah dan pengikut Ahlul Bait. Sumbernya adalah propaganda musuh. Merasa cukup dengan data yang didapat dari isu. Menjadikan perbuatan orang-orang awam sebagai tolok ukur. Tidak pernah melakukan pendekatan dan menghakimi secara in absentia.

12. Kami mengumumkan kepada kalian bahwa ulama Syiah siap hadir dalam pertemuan-pertemuan kedua belah pihak ulama. Siap melakukan dialog dan diskusi dalam lingkungan persaudaraan. Ulama Syiah siap untuk membuktikan bahwa tuduhan yang selama ini dialamatkan ke Syiah hanyalah buruk sangka, propaganda musuh dan perilaku orang-orang ekstrim. Sangat tepat sekali bila dalam pertemuan itu, seluruh dari mereka yang memberikan fatwa untuk membantai semua orang Syiah, untuk hadir.

Selama empat tahun setelah lengsernya Saddam, ulama Syiah senantiasa mengajak agar semua kelompok dan rakyat Irak untuk tidak terlibat dalam konflik sektarian dan perang saudara. Saat ini, tiba giliran ulama dan pemikir Ahli Sunah untuk mengamalkan kewajiban mereka. Ulama Ahlus Sunah harus berani menjelaskan kepada kelompok-kelompok yang tidak sadar ikut dalam skenario perang antara sesama muslim, untuk tidak lagi melakukan hal itu. Jangan sampai kehormatan Islam yang ada ini semakin jatuh di mata dunia. Dan yang lebih penting lagi, agar jangan sampai terulang kembali tumpahnya darah manusia tidak berdosa. Jangan sampai mereka mempermainkan hukum Islam yang diterima oleh semua kaum muslimin.

"Ya Tuhan kami! Berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)" (A'raf: 89).

"Ya Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang" (Hasyr: 10).[infosyiah]

ana syiah


Bismillahirrahmaannirrahiim...

Assalaa'mualaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh...

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad...

Dari sekian banyak tulisan mengenai sejarah "lahirnya" Syiah, disebutkan bahwa Syiah paling tidak terbentuk pada masa pemerintahan Utsman ibn Affan, atau pada saat Perang Shiffin. Adapula tulisan konyol yang menyebutkan bahwa Syiah dilahirkan oleh seorang Yahudi bernama Abdullah ibn Saba. Tapi tulisan ini bukan tempatnya untuk menjelaskan tentang Ibnu Saba tersebut, karena sudah banyak tulisan para ulama yang menjelaskan bahwa Ibnu Saba hanya isapan jempol Saif ibn Umar At-Tamimi.

Untuk lebih sederhananya, siapa yang lebih gencar untuk menghancurkan Israel? Iran, negara mayoritas Syiah, dengan presidennya Ahmadinejad (semoga Allah melindunginya) adalah yang menyatakan bahwa Israel (yang notabene Yahudi) harus dihapuskan dari peta dunia. Di mana negara-negara non-Syiah seperti Arab Saudi, Jordania, dan Mesir atau Timur Tengah lainnya?? Lalu siapa yang berhasil mengalahkan Israel?? Bukan Gamal Abdul Nasser dan Saddam Hussain, tapi Sayyid Hasan Nasrallah (semoga Allah melindunginya) dengan Hizbullah-nya (yang notabene Syiah).

Tulisan ini hanya "a la kadarnya" saja. Ingin menjelaskan bahwa Syiah itu sudah ada dari zaman Rasulallah SAW (shalallahu 'alayhi wa aalih), maksudnya adalah berasal dari Rasulallah SAW sendiri. Rasul SAW sendiri yang menyebutkan "syiah" itu adalah pengikut Ali ibn Abi Thalib AS, yang berarti juga mengikuti Muhammad ibn Abdillah AS.

Berbeda dengan kata "Ahlus Sunnah wa Al-Jama'ah", kata "Syiah" sudah ada/digunakan dari zaman dahulu. Di dalam Al-Quran misalnya, dalam surah Ash-Shaffat ayat 83: "Dan sungguh, salah satu syiah (pengikut) nya adalah Ibrahim". Begitu pula yang disebutkan dalam surah Al-Qashash ayat 15: "...yang seorang dari syiah (pengikut/golongan) nya dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir'aun)."

Namun fokus dari tulisan ini adalah keterangan Nabi SAW dalam hadis. Berikut ini adalah hadis-hadis yang menerangkan tentang awal "keberadaan" Syiah.

Syiah dalam Hadis

Al-Hafizh Abu Na'im adalah seorang ulama Ahlus Sunnah yang disebutkan oleh para ulama bahwa ia adalah seorang "mahkota hadis" dan "guru para hadis tsiqqat/terpercaya." Beliau dalam kitabnya Hilyah Al-Awliya' dengan sanad dari Ibn Abbas: Ketika turun ayat yang mulia: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk" (QS. Al-Bayyinah 7), Rasulallah SAW bersabda kepada Ali ibn Abi Thalib, "Wahai Ali, itu adalah engkau dan pengikut (syiah) mu. Engkau dan syiahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai." Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Mu'ayyid ibn Ahmad Al-Khawarizmi dalam kitabnya Al-Manaqib pasal 17 tentang turunnya ayat tersebut.

Hadis senada juga terdapat dalam kitab Tadzkirah Khawwash Al-Ummah karya Sabath ibn Al-Jawzi, hlm. 56, yang sanadnya berasal dari Abu Sa'id Al-Khudri: "Nabi SAW memandang kepada Ali ibn Abi Thalib, lalu bersabda, 'Orang ini dan para pengikut (syiah) nya adalah orang-orang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat'."

Abu Mu'ayyid ibn Ahmad Al-Khawarizmi dalam Al-Manaqib, pasal 9, hadis no. 10 dari Jabir ibn Abdallah Al-Anshari: Kami bersama Nabi SAW, kemudian datang Ali ibn Abi Thalib. Beliau bersabda, "Telah datang saudaraku kepada kalian". Kemudian beliau memukulkan tangannya. Beliau bersabda, "Demi yang diriku dalam kekuasaan-Nya, orang ini dan syiahnya adalah orang-orang yang beroleh kemenangan pada hari kiamat. Kemudian, ia adalah orang yang pertama yang beriman di antara kalian, yang paling setia menepati janji Allah, yang paling keras menegakkan perintah Allah, yang paling adil dalam memimpin, yang paling adil dalam membagi, dan yang paling agung keutamaannya di sisi Allah." Perawi menambahkan kemudian turun ayat: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (khayrulbariyyah)... Selanjutnya perawi berkata: Apabila Ali datang, para sahabat Muhammad SAW berkata, "Telah datang khayrulbariyyah." Allamah Al-Kanji Asy-Syafi'i meriwayatkan dalam kitabnya Kifayah Ath-Thalib bab 62 dengan sanad dari Jabir ibn Abdallah Al-Anshari.

Nabi SAW bersabda kepada Ali, "Engkau dan syiahmu berada di surga." (Tarikh Baghdad, juz 2, hlm. 289)

Rasulallah SAW bersabda, "Wahai Ali, engkau dan syiahmu kembali kepadaku di Al-Haudh dengan rasa puas dan wajah yang putih. Sedangkan musuh-musuh mereka kembali ke Al-Haudh dalam kehausan." (Ibnu Hajar, Ash-Shawaiq Al-Muhriqah, hlm. 66, cet. Al-Maimanah (Mesir); Allamah Shalih At-Turmudzi, Al-Manaqib Al-Murtadhawiyah, hlm. 101, cet. Bombay)

Nabi SAW bersabda kepada Ali, "...dan syiahmu berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dengan wajah putih di sekelilingku. Aku memberikan syafaat kepada mereka. Maka mereka kelak di surga bertetangga denganku." (Al-Kanji Asy-Syafi'i, Kifayah Ath-Thalib, hlm. 135; Manaqib Ibnu Maghazali, hlm. 238)

Dari 'Ashim ibn Dhumrah dari Ali AS: Rasulallah SAW bersabda, "Ada sebuah pohon yang aku adalah pangkalnya, Ali adalah cabangnya, Al-Hasan dan Al-Husain adalah buahnya, dan syiah adalah daun-daunya. Tidak keluar sesuatu yang baik kecuali dari yang baik." (Al-Kanji Asy-Syafi'i, Kifayah Ath-Thalib, hlm. 98)

Diriwayatkan dari Nabi SAW: "Janganlah kalian merendahkan syiah Ali, karena masing-masing dari mereka diberi syafaat seperti untuk Rabi'ah dan Mudhar." (Al-Hakim, Al-Mustadrak 3/160; Ibnu Asakir, Tarikh 4/318; Muhibbuddin, Ar-Riyadh An-Nadhrah 2/253; Ibnu Ash-Shabagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah 11; Ash-Shafuri, Nazhah Al-Majalis 2/222; Allamah Al-Hindi, Intiha' Al-Afham, hlm. 19, cet. Lucknow; Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 257, cet. Istanbul)

Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri: Nabi SAW memandang kepada Ali ibn Abi Thalib dan bersabda, "Orang ini dan syiahnya adalah orang-orang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat." (Sabath ibn Al-Jawzi, Tadzkirah Al-Khawwash, hlm. 59, cet. Aljir)

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik: Rasulallah SAW bersabda, "Syiah Ali adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (Ad-Dailami, Firdaws Al-Akhbar; Allamah Al-Mannawi, Kunuz Al-Haqa'iq, hlm. 88, cet. Bulaq; Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 180, cet. Istanbul; Allamah Al-Hindi, Intiha Al-Afham, hlm. 222, cet. Nul Kesywar)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: Rasulallah SAW bersabda, "Ali dan syiahnya adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan pada hari kiamat." (Allamah Al-Kasyafi At-Turmudzi, Al-Manaqib Al-Murtadhawiyah, hlm. 113, cet. Bombay; Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 257; Allamah Al-Hindi, Intiha Al-Afham, hlm. 19)

Rasulallah SAW bersabda kepada Ali, "Engkau dan syiahmu kembali kepadaku di Al-Haudh dalam keadaan puas." (As-Suyuthi, Ad-Durr Al-Mantsur 6/379, cet. Mesir; Al-Qunduzi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 182)

Rasulallah SAW bersabda, "Wahai Ali, empat orang pertama yang masuk surga adalah aku, engkau, Al-Hasan, dan Al-Husain. Keturunan kita menyusul di belakang kita. Istri-istri kita menyusul di belakang keturunan kita, dan syiah kita di kanan dan kiri kita." (Tarikh Ibn Asakir, 4/318; Ibnu Hajar, Ash-Shawaiq, hlm. 96; Tadzkirah Al-Khawwash, hlm. 31; Majma Az-Zawa'id 9/131)

Diriwayatkan dari Asy-Sya'bi dari Ali AS: Rasulallah SAW bersabda, "Engkau dan syiahmu berada di surga." (Tarikh Baghdad, 12/289, cet. As-Sa'adah (Mesir); Akhthab Khawarizmi, Al-Manaqib, hlm. 67)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah: Rasulallah SAW bersabda kepada Ali, "Engkau bersamaku dan syiahmu di surga." (Majma Az-Zawa'id, 9/173)

Anas meriwayatkan dari Nabi SAW: Beliau bersabda, "Jibril mengabarkan kepadaku dari Allah SWT bahwa Allah mencintai Ali dengan kecintaan yang tidak diberikan kepada malaikat, para nabi, dan para rasul. Tidak ada tasbih yang ditujukan kepada Allah, melainkan darinya Dia menciptakan satu malaikat yang memohonkan ampunan bagi orang yang mencintainya dan syiahnya hingga hari kiamat." (Allamah Al-Kasyafi At-Turmudzi, Al-Manaqib Al-Murtadhawiyah, hlm. 116, cet. Bombay; Allamah Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 256, cet. Istanbul tetapi tanpat kalimat "para nabi dan para rasul".)

Hemat pemilik blog ini kalimat "para nabi dan para rasul" tidaklah berlebihan kepada Ali. Semua orang Islam yang berakal juga mengetahui bahwa Rasulallah SAW adalah kekasih Allah dan beliau adalah yang utama. Maka sudah tentu Ali adalah sesudah Nabi SAW. Namun ada kecintaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada Ali AS yang berbeda dari Nabi SAW. Wallahu'alam.

Itu adalah sedikit hadis yang menceritakan tentang syiah yang namanya sudah diberikan oleh Rasulallah SAW kepada Ali AS. Hal ini menunjukkan bahwa Syiah sudah ada pada masa itu, dan tidak terbentuk pada masa Utsman atau masa Muawiyah.

Apa yang disampaikan penulis bukan berarti penulis adalah seorang Syiah. Dan pengakuan ini juga bukan berarti taqiyah. Untuk menjelaskan bagaimana Syiah yang sesungguhnya berikut saya kutip sebuah hadis.

Dari Jabir dari Abi Ja'far AS. Ia berkata: Imam berkata kepadaku: "Wahai Jabir! Apakah cukup seseorang dikatakan mengikuti kami hanya dengan mencintai kami? Demi Allah, pengikut kami tidak lain adalah orang yang bertakwa dan mentaati Allah SWT. Mereka tidak dikenal kecuali dengan sikap rendah hati, khusyuk, amanat, banyak berzikir kepada Allah, puasa dan shalat, berbakti kepada kedua orang tua, memperhatikan tetangganya yang fakir dan miskin serta orang yang berhutang dan para yatim, berkata jujur, membaca Al-Quran, mencegah lidah dari menyebut orang kecuali kebaikannya dan mereka jadi tumpuan kepercayaan keluarganya dalam segala hal." (Ushul Kafi, juz 2, hlm. 74)

Hadis yang begitu indah. Setelah membaca hadis itu membuat hati gemetar rasanya. Dan menjadi jelaslah bahwa saya bukan seorang Syiah, walaupun ingin rasanya.

Saya akan kutipkan lagi sebuah hadis yang akan menjelaskan Syiah sesungguhnya yang membuat saya ingin menjadi Syiah. Saya kutip dari kitab Aqaid Al-Imamiyah karya Syaikh Ridha Al-Muzhaffar (rahimahullah).

"Sesungguhnya syiah Ja'far adalah orang yang menjaga perut dan kemaluannya, bersemangat dalam jihadnya, berbuat baik pada Penciptanya, mengharapkan pahala-Nya, dan takut akan siksa-Nya. Jika kalian melihat mereka, sesungguhnya mereka dalah syiah Ja'far."

"Bukan dari syiah kami orang yang wara' nya tidak menjadi buah bibir para wanita cantik, dan bukan dari pecinta kami orang yang di desanya terdapat sepuluh ribu manusia, dan (masih) ada orang yang lebih shaleh darinya."

Yaa Allah, Yaa Rasulallah, Yaa Ali, Yaa Ahlulbaytin-Nubuwwah, salam Allah kepada kalian semua, jadikanlah aku sebagai syiah kalian...

Wabillahi tawfiq walhidayah

Wassalaamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh...



Ayatullah Shafi Golpaigani Menjawab fatwa Perusakan Wahabi


Bismillahirrahmanirrahim

Allah SWT berfirman: "Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama- Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki- laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak ( pula ) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan ( dari ) mendirikan sembahyang, dan ( dari ) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang ( di hari itu ) hati dan penglihatan menjadi guncang" (Nur: 36-37)

Ibnu Mardawaih mengeluarkan hadis dari Anas bin Malik dan Buraidah berkata: "Rasulullah saw membaca ayat ini "Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama- Nya di dalamnya… Seorang bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah! Apa yang dimaksud dengan rumah-rumah dalam ayat itu?" Nabi menjawab: "Rumah para Nabi". Abu Bakar bertanya: "Apakah rumah ini, yang ditempati oleh Ali dan Fathimah juga termasuk "rumah-rumah" dalam ayat itu?" Nabi menjawab: "Iya. Bahkan termasuk yang paling mulia dari rumah-rumah para Nabi". (Ad-Durr Al-Mantsur, jilid 5, hal 50)

Masyarakat yang sadar diri dan cerdas selalu berusaha untuk melestarikan sejarah dan jati dirinya melalui upaya pelestarian peninggalan-peninggalan bersejarah yang merujuk pada nenek moyangnya. Dengan menjaga, merenovasi dan menghidupkan kembali peradaban yang dibangun oleh nenek moyangnya; baik berupa benda-benda bersejarah dan bukti-bukti lainnya, sebuah masyarakat ingin mengenalkan kepada dunia jati dirinya. Dan untuk membuktikan sejarah dan peninggalannya cara yang dilakukan dengan dukungan bangunan dan bukti-bukti sejarah lainnya. Dari sini sejarah sebuah bangsa menjadi kokoh dan langgeng. Pembuktian itu dilakukan secara besar-besaran dengan menggali dan melakukan ekspedisi. Tanpa usaha ini, jati diri sebuah bangsa pada masa yang akan datang terancam punah atau malah diingkari.

Umat Islam termasuk salah satu dari bangsa di dunia ini yang kaya akan budaya dan bukti-bukti sejarah. Semenjak munculnya Islam, umat Islam senantiasa menjaga kebanggaannya dengan merawat fakta-fakta bangunan bersejarah, kuburan-kuburan, masjid dan lain-lainnya dan memperkenalkannya ke dunia internasional. Terutama terkait dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW mulai dari kelahiran, bi'tsah (pengutusan sebagai Nabi), hijrah dan bahkan ketika meninggalnya. Semua ini jelas datanya dan dunia mengetahui itu. Menziarahi dua tempat suci; Mekkah dan Madinah, merupakan kenangan yang tidak bakal terlupakan.

Ironisnya, fakta dan bukti-bukti sejarah yang kokoh dan membanggakan umat Islam mulai dikhianati. Sebuah kelompok dungu dengan alasan fiktif yang dicari-cari, ditambah dengan tuduhan-tuduhan terhadap Salaf dan Khalaf; orang-orang yang meyakini tauhid, sebagai kafir dan musyrik! Mereka telah dan akan terus menghancurkan bukti dan fakta-fakta sejarah kebanggaan dan jati diri umat Islam.

Kerugian yang diakibatkan oleh kelompok dungu ini sangat luar biasa dan tidak dapat dibayangkan. Dampaknya untuk masa-masa yang akan datang adalah umat Islam tidak memiliki fakta dan bukti-bukti sejarah untuk menunjukkan jati dirinya. Mereka ingin memusnahkan bukti dan fakta sejarah yang harus diselamatkan dan dijaga hingga hari kiamat. Karena ini menjadi pendukung sejarah wahyu dan risalah Islam. Pada hakikatnya, Islam dalam bahaya bahwa pada masa yang akan datang para peneliti akan mengingkari sejarah dan peradaban Islam karena tidak memiliki bukti-bukti sejarah.

Mereka ingin nama Nabi Muhammad SAW hilang dari ingatan orang. Kehidupannya yang memiliki banyak ragam dimensi untuk diteladani bakal ditinggalkan. Bahkan orang tidak lagi tahu di mana rumah tempat beliau dilahirkan! Tempat di mana pembawa wahyu dilahirkan. Saat ini tempat itu dijadikan sebuah perpustakaan dengan nama "Maktabah Makkah al-Mukarramah". Baru-baru ini juga mereka mengusulkan untuk menghancurkan gua Hira'. Sehingga orang-orang tidak menziarahi tempat itu dan menyebut nama Allah di sana!

Tidak tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh kelompok ini? Dengan apa dan siapa mereka memiliki sikap permusuhan ini? Apa sebenarnya yang membuat mereka begitu memaksakan kehendaknya untuk menghancurkan peninggalan-peninggalan bersejarah?

Ketika kelompok ini muncul, pada 11 abad sebelumnya, khalifah waktu itu, Ar-Radhi Billah telah mewanti-wanti bahaya cara berpikir seperti ini. Ia membongkar kedok dari orang-orang yang memiliki cara berpikir seperti ini.

Begitu getolnya usaha mereka untuk menghapus peninggalan Nabi Muhammad saw, sebuah tulisan berbentuk prasasti di masjid Nabawi, nama Muhammad (????) diganti oleh mereka dengan Majid (???? ) !

Padahal, umat dan bangsa-bangsa lain, senantiasa berusaha mencari peninggalan-peninggalan sejarah untuk membuktikan jati dirinya. Benar-benar kita harus mengutuk tindakan kelompok, yang hanya bermodalkan fanatisme buta. Di hadapan sorotan lebih dari satu miliar kaum muslimin yang sadar akan diri dan kewajibannya, mereka menghancurkan bukti dan fakta-fakta sejarah hidup Islam dan tokoh-tokohnya di Haramain, Makkah dan Madinah.

Tentunya, tidak ada yang perlu diherankan dari cara berpikir kelompok ini. Mereka adalah kelompok yang sempat menolak untuk memakai hasil-hasil peradaban dan teknologi yang diciptakan manusia seperti telepon, listrik, sepeda dan lain-lain. Mereka menganggap semua itu adalah bidah. Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang mengafirkan siapa yang punya keyakinan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Mereka adalah orang-orang yang mengafirkan siapa saja yang meyakini tauhid selain mereka. Kelompok yang mengafirkan Syiah pengikut Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW dan menghalalkan darahnya.

Mereka adalah kelompok yang menggantikan wajah Islam yang penuh rahmat dan kasih sayang ini dengan topeng kekerasan dan kebengisan. Sikap ini membuat orang-orang benci terhadap Islam dan kaum muslimin. Dengan fatwa pengafiran dan penghalalan darah kaum muslimin, mereka membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa di Irak. Mereka tidak pernah pilih-pilih korban baik kecil, besar, wanita dan pria mereka bunuh hanya dengan dosa bahwa mereka mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW.

Tidak perlu heran dengan mereka. Mereka sepertinya sedang hidup di zaman batu! Yang perlu dipertanyakan adalah ulama Haramain, Mekkah dan Madinah, yang mengetahui akan kondisi yang sebenarnya. Yang perlu dipertanyakan adalah seluruh ulama dunia Islam dan kepala-kepala negara Islam bahkan kepada Khadimul Haramain Asy-Syarifain. Sampai kapan mereka akan mendiamkan hal ini dan tidak menunjukkan tanggung jawabnya?

Kita semu tahu, tokoh-tokoh ini mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh kelompok ini. Mengapa mereka terdiam ketika kerugian akibat dampak buruk perilaku kelompok ini merusak Islam dan umat Islam?

Sebelumnya juga ada 38 tokoh dari kelompok ini yang menandatangani sebuah pernyataan yang mengajak kaum muslimin untuk menyebarkan perselisihan, perang saudara dan menodai kehormatan kaum muslimin. Pada hari-hari ini, salah satu dari mereka berfatwa untuk merusak tempat-tempat suci dan kuburan-kuburan Ahlul Bait. Tempat dan kuburan suci yang jelas-jelas menjadi bukti dari ayat "Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya…". Mereka ingin agar dunia Islam tercabik-cabik, chaos terjadi di mana-mana, kaum muslimin sibuk dengan dirinya sendiri dan pada saat itu, musuh Islam menguasai mereka.

Setelah kaum muslimin mulai sadar akan dirinya, sangat diharapkan agar kelompok ini segera sadar dengan apa yang dipikirkan dan dilakukannya selama ini. Tokoh-tokoh dan petinggi negara hendaknya tidak lagi melindungi mereka. Mereka harus dikondisikan untuk tidak lagi mengobarkan fitnah dan perpecahan. Akan tetapi sangat disayangkan, diamnya kepala-kepala negara, ulama Haramain Syarifain dan Al-Azhar, membuat mereka leluasa berbuat apa saja yang diinginkannya.

Untuk menjaga kekuatan Islam agar tidak jatuh ke tangan musuh Islam, jangan sampai mereka berbuat sehingga Islam menjadi lemah, menyebarkan fitnah dan mengobarkan permusuhan.

Kami menyeru kepada seluruh kaum muslimin yang sadar di seluruh dunia, kepada ulama Haramain Syarifain agar mengamalkan kewajibannya untuk senantiasa menjaga persatuan, kekuatan dan kemuliaan Islam! Hendaknya mereka menjaga kehormatan dan tidak melakukan perbuatan haram! Jangan beri kesempatan kepada mereka untuk mengobarkan fitnah lebih dari yang telah dilakukan dan padamkan api fitnah! Jangan biarkan mereka merusak lebih jauh peninggalan-peninggalan sejarah Islam!

"Dan Allah Maha Mengetahui bahwa kami hanya menginginkan kemuliaan dan kekuatan Islam di Barat dan di Timur, Syiah maupun Ahlus Sunah. Kami mengajak seluruh kaum Muslimin untuk berpegangan dengan tali Allah dan mengenyahkan kebencian. Allah Maha Penolong dan Penyantun"

6 Safar 1428

al wahabi

Menyingkap yang Tak Terungkap tentang Wahabi, kali ini dari Ayatullah Ja'far Subhani

Ayatullah_shaykh_jafar_subhani Musim haji tahun ini diterbitkan sebuah buku dengan nama "Qira'atun Rasyidah Fi Kitab Nahjil Balaghah" yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abdullah Al-Jami'an di Arab Saudi. Buku itu kemudian diterjemahkan menjadi "Nahjul Balaghah Ra Dubareh Bekhanim" (Membaca kembali Nahjul Balaghah). Di situ, sebagai penerjemah dicantumkan nama Ayatullah Ja'far Subhani.

Sebagaimana biasa dalam musim haji, oleh pihak Arab Saudi, dibagikan buku-buku kepada jamaah haji. Edisi Parsi buku ini dibagikan kepada jamaah haji Iran. Setelah dibaca, ternyata ditemukan berbagai pemahaman yang tidak benar terhadap Nahjul Balagah, terutama dalam masalah Imamah dan Khilafah. Akhirnya, dilakukan pengecekan ulang kepada Ayatullah Subhani. Setelah membaca buku tersebut, Ayatullah Subhani berkata: "Alhamdulillah, Allah Zat yang telah menjadikan musuh-musuh kami dungu". Beliau melanjutkan: "Siapa saja yang pernah membaca tulisan-tulisan kami, pasti tahu bahwa ini bukan hasil karya saya. Dan ini adalah kebohongan atas nama seorang ulama Syiah. Cara yang dipakai sama sekali jauh dari akhlak Islam. Jelas, selain cara yang seperti ini tidak memiliki dampak apa-apa, keimanan orang akan semakin kokoh dengan tuntunan Imam Ali AS".

Berikut ini adalah pernyataan tertulis Ayatullah Ja'far Subhani.

Bismillahirrahmanirrahim

Kewajiban setiap muslim setelah belajar dan memahami dengan benar agama Islam adalah mengajarkan dan mentabligkannya. Tablig agama adalah bagian dari amar makruf dan nahi mungkar, sebuah kewajiban kifa'i bagi kaum muslimin.

Tabligh merupakan hal yang penting dan sebuah kewajiban dalam agama Islam. Namunpun demikian, tablig memiliki syarat-syarat dan etika. Ulama Islam telah menjelaskan masalah ini, dalam buku-buku mereka di bawah judul "Adab ad-Da'wah" (etika dakwah). Salah satu syarat paling penting dalam melakukan tablig untuk sampai pada tujuan adalah cara yang benar, baik dan suci. Tablig agama tidak boleh dikotori dengan bohong. Harus jelas bahwa tablig dalam Islam tidak menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.

Sangat disayangkan sekali di dunia Islam, ada saja orang-orang yang memiliki posisi sebagai ulama tapi menghalalkan segala cara. Beberapa contoh kasus dapat dilihat sebagai berikut:

1. Membuat hadis palsu atas nama Rasulullah saw

Setelah meninggalnya Nabi Muhammad saw, membuat hadis palsu termasuk profesi yang banyak dilakukan demi melanggengkan kekuasaan pemerintah yang korup. Membuat hadis palsu atas nama Rasulullah SAW. Nabi Muhammad saw sendiri telah memberikan wejangan "Barang siapa yang berbohong atas namaku, niscaya tempatnya adalah di neraka" (Shahih Bukhari, jilid 1, bab "Itsmu Man Kadziba 'Ala an-Nabi", hadis nomor 107, 108 dan 109).

Ancaman ini tidak mempan bagi mereka yang hatinya telah keras dan para pecinta dunia. Setelah wafatnya Rasulallah SAW pembuatan hadis palsu sedemikian merajalelanya sehingga untuk membedakan mana hadis asli dan mana yang palsu sangat sulit. Cukup kita melihat bahwa sejarah mencatat ada sekitar tujuh ratus ribu lebih para pembuat hadis palsu lengkap dengan data-data pribadi (Al-Ghadir, jilid 5, hal 301-446).

2. Mengubah (tahrif) sebab turunnya ayat al-Quran

Al-Quran adalah mukjizat ilahi dan sumber pengetahuan. Al-Quran belum pernah dirubah semenjak turunnya hingga sekarang dan akan datang. Kata-kata yang ada di dalamnya, tanpa kekurangan sedikitpun terjaga oleh mereka yang menghapalkannya. Akan tetapi, para pedagang hadis, penyembah dunia dalam baju ulama dan kelompok yang termarjinalkan selalu berusaha dengan segala cara untuk menafsirkan ayat al-Quran sesuai dengan kepentingan mereka.

Ahli-ahli tafsir menyebutkan:

"Pada malam hari di mana para pemimpin penyembah berhala Quraisy memutuskan untuk menyerang rumah Nabi Muhammad SAW pada tengah malam dan membunuhnya, Nabi memerintahkan kepada Ali AS untuk tidur di tempat pembaringannya. Karena Nabi hendak pergi melakukan hijrah.

Pengorbanan yang dilakukan oleh Ali AS dipuji oleh Allah SWT lewat surat Baqarah ayat 207 (Tafsir Ats-Tsa'labi, jilid 2, hal 125-126). "Dan ada sebagian manusia yang rela menjual (baca : mengorbankan) dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya".

Samurrah ibn Jundub, salah satu penjahat kelas kakap Bani Umayyah, menerima uang sebesar 400 ribu dirham untuk mengingkari turunnya ayat tersebut kepada Ali AS. Ia menyampaikan di tempat umum bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan Abdurrahman ibn Muljam. Ia tidak hanya mengingkari turunnya ayat tersebut terkait dengan pribadi Ali AS, bahkan ia juga menambahkan bahwa ayat lain yang turun mengenai Ali AS, ayat tentang orang-orang munafik (Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jilid 4, hal 73). Ayat tersebut berbunyi: "Dan ada sebagian orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan menjadikan Allah sebagai saksi (atas kebenaran) isi hatinya, sedangkan ia adalah musuh yang paling keras" (Baqarah: 204).

Penafsiran semacam ini dari seorang Samurrah adalah sangat mudah. Pada zaman Ubaidillah ibn Ziyad menjadi gubernur Irak, ia sebagai bupati Basrah. Kebenciannya terhadap Ahlul Bait Nabi dan pecinta mereka membuat ia membunuh sekitar 8 ribu orang. Kejahatan mereka hanya satu, mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW. Ia seakan tidak punya pikiran bahwa dari 8 ribu orang itu, ada yang sama sekali tidak berdosa di matanya. Ketika ditanya mengapa ia tega membunuh pecinta keluarga Nabi seperti itu? Ia menjawab "Dua kali lipat dari jumlah mereka pun aku berani membantai mereka" (Tarikh Thabari, jilid 4, hal 176, kejadian dekade lima puluhan Hijriah, Muassasah Mathbu'at A'lami).

3. Rekayasa keutamaan

Sebagian dari penguasa yang tidak memiliki kelayakan, berusaha untuk mencitrakan dirinya sebagai orang yang layak dan memiliki keutamaan. Untuk itu ia memberi uang kepada orang-orang yang siap merekayasa keutamaan untuk diri dan keluarganya. Berusaha sedemikian rupa agar dia dan keluarganya dekat bahkan memiliki hubungan keluarga dengan Nabi Muhammad SAW. Muawiyah yang berasala dari dinasti Umayyah. Karena hubungannya dengan Utsman, ia memaksa sekelompok orang untuk merekayasa keutamaan Utsman. Akhirnya, muncul hadis-hadis yang dinukil langsung dari lisan Nabi Muhammad SAW.

Para pembuat hadis palsu terkait dengan keutamaan Utsman sedemikian semangatnya sehingga lepas kontrol. Akhirnya, untuk mengontrol mereka, Muawiyah berkata: "Semestinya kalian juga melakukan hal yang kurang lebih sama terhadap Syaikhain, Abu Bakar dan Umar bin Khatthab (Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jilid 11, hal 46).

4. Pengingkaran terhadap keutamaan Ahlul Bait Nabi

Rekayasa keutamaan untuk kepentingan mereka adalah ciri khas kelompok ini. Hal yang mengejutkan adalah usaha untuk mengingkari sebuah keutamaan, khususnya keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS. Keutamaan yang telah diriwayatkan lewat hadis mutawatir dan sahih sekalipun. Ahmad bin Taimiyah adalah jagoannya dalam mengingkari keutamaan. Kegemarannya ini membuat Ibnu Hajar al-'Asqallani berkata:

"Ibn Taimiyah dalam dialognya dengan Ibnu Muthahhar (Allamah Hilli) sampai pada tahap mengingkari hadis sahih. Dalam Minhaj as-Sunnah berdasarkan sifatnya itu, ia mengingkari keutamaan Imam Ali AS. Tidak cukup sampai di situ, ia menyebutkan bahwa hadis-hadis tersebut sebagai hadis bohong. Padahal, pada saat yang sama, ulama besar Ahli Sunah menukil hadis-hadis tersebut seperti:

a. Persaudaraan antara Nabi Muhammad saw dan Ali as dalam hadis "Muakhah"

Setelah sampai di Madinah, Nabi mempersaudarakan setiap sahabat dengan lainnya. Sampai pada Ali AS, Nabi mengangkatnya sebagai saudaranya. Ibnu Hajar (Fath al-Bari, jilid 7, hal 271), dengan tegas menolak pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap keutamaan Ali AS. Ia mempertanyakan mengapa Ibnu Taimiyah mengingkari hadis ini, padahal para tokoh ahli hadis besar menukilnya. Ibnu Hajar sendiri setelah itu membeberkan filsafat persaudaraan yang dilakukan oleh Nabi.

b. Ali AS tolok ukur kebenaran

Hadis "Ali Ma'a al-Haq Wa al-Haq Ma'a Ali" (Ali senantiasa bersama kebenaran dan kebenaran bersamanya), untuk menjelaskan bahwa dalam masalah-masalah akidah, sosial dan politik, maka kebenaran senantiasa ada di pihak Ali. Hadis ini diingkari oleh Ibnu Taimiyah karena jauhnya ia dari Ahlul Bait AS. Padahal, para tokoh ahli hadis menukil hadis ini. Bahkan Fakh ar-Razi dalam bukunya menyebutkan bahwa hadis ini mutawatir (Mafatih al-Ghayb, jilid 1, hal 205).

Dua contoh di atas menunjukkan bagaimana dalam melakukan tablig, terjadi pendustaan terhadap keutamaan yang telah diterima oleh para ulama.

5. Mengusahakan adanya friksi dalam kelompok pengikut kebenaran

Untuk mengokohkan posisi mereka, salah satu kekhususan lain yang perlu disebutkan adalah menyebarkan perselisihan di kalangan pecinta Ali AS. Dalam peperangan antara Imam Ali AS dan Muawiyah, tipuan yang dilakukan untuk merusak barisan Imam Ali AS adalah dengan mengangkat mushaf. Tipuan berhasil membuat perselisihan di kelompok Ali AS. Dari sini muncul kelompok dengan nama Khawarij. Mereka memaksa Imam Ali AS untuk menerima gencatan senjata. Di akhir, mereka sendirilah yang kemudian menyesal menerima gencatan senjata tersebut. Mereka kemudian meminta kepada Imam Ali AS untuk secara sepihak keluar dari perjanjian. Akhirnya, Imam Ali AS menjadi korban dari perselisihan ini.

Kami mencukupkan ciri khas mereka dan pada kesempatan lain akan dijelaskan lebih luas.

6. Penerbitan buku atas nama para tokoh Syiah

Telah kami ingatkan bahwa dalam tablig agama harus benar dan dengan jalan yang suci. Salah satu cara tablig yang paling menjijikkan adalah seorang menulis buku sesuai dengan keyakinannya kemudian menerbitkannya dengan nama orang lain. Dengan cara ini, diharapkan citra yang dimiliki oleh tokoh tersebut dapat mendongkrak popularitas keyakinannya.

Sebagai contoh buku "Asy-Syiah Wa At-Tashih". Buku ini ditulis oleh Wahabi dan nama penulisnya disebutkan Sayyid Musa Musawi. Ia adalah cucu dari marja besar Syiah Ayatullah Isfahani. Mereka bertujuan dengan mencatut nama Sayyid Musa Musawi sebagai penulis buku itu, rencana mereka dalam tablig keyakinan mereka akan lebih mulus. Siapa saja yang memiliki hubungan baik dengan Sayyid Musa Musawi semasa hidupnya, pasti menolak penisbatan buku ini terhadapnya. Dan mengatakan bahwa penisbatan itu adalah sebuah kedustaan.

Model tablig semacam ini menunjukkan bahwa Wahabi dalam melakukan tablig menghalalkan segala cara. Mereka tidak sadar bahwa cara seperti ini menunjukkan kebobrokan mereka sendiri dan pada akhirnya tidak akan berhasil.

Beberapa waktu lalu, di Arab Saudi diterbitkan sebuah buku dengan judul "Ta'ammulat Fi Nahjul al-Balaghah". Qadhi Qathif, Syaikh Saleh Darwisyi, memberikan komentar atas buku tersebut. Saya menuliskan kritik terhadap buku itu dan yang saya kritik adalah Syaikh Saleh Darwisyi. Judul buku saya "Hiwar Ma'a as-Syaikh Saleh Darwisyi" dan sudah diterjemahkan ke bahasa Parsi juga.

Buku saya juga dicetak dan diterbitkan di Arab Saudi. Hal itu membuat usaha Wahabi menjadi terganjal. Mereka ingin menutupi kelemahan yang ada dengan menerbitkan buku "Qira'atun Rasyidah Li Kitab Nahjul Balaghah", karangan Abdurrahman bin Abdillah al-Jamian. Untuk membohongi jamaah haji Iran, mereka menerjemahkan buku itu dengan judul "Nahjul Balaghah Ra Dubareh Bekhanim" (Membaca kembali Nahjul Blaghah) dan menerbitkannya. Nama penerjemah ditulis Ja'far Subhani.

Bila melihat isi buku, di sana tidak tertulis nama percetakan dan penerbitan bahkan tidak dicantumkan tahun dicetak. Kelihatannya mereka begitu tergesa-gesa dalam mencetak buku ini sehingga tidak mencantumkan semua itu. Yang lebih lucu lagi, cover buku tertulis "Nahjul Balaghah Ra Dubareh Bekhanim" sementara pada halaman ke tiga judul buku ditulis "Hamgam Ba Nahjul Balaghah" (Bersama Nahjul Balaghah). Melihat bentuk pemilihan huruf dan lay out dapat di dipastikan bahwa semuanya dilakukan di Arab Saudi.

Kerja seperti ini merupakan bukti dari kalimat "Alhamdulillah, Allah Zat yang telah menjadikan musuh-musuh kami dungu" (Alhamdulillah al-Ladzi Ja'ala A'da'ana Humaqa'). Karena bila buku ini dibaca oleh siapa saja, dapat mengetahui bahwa perbuatan ini hanyalah penipuan belaka. Apa lagi bila mengenal saya dengan buku-buku yang saya tulis. Tentunya, buku ini tidak saja tidak memiliki dampak apa-apa, bahkan keimanan orang akan semakin kokoh dengan tuntunan Imam Ali AS.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa nama percetakan dan penerbit tidak dituliskan, namun karena diterbitkan di tahun ini, pada musim haji tahun ini, di Arab Saudi lewat para mubalig resmi Wahabi buku ini dibagi-bagikan. Secara syariat Islam dan undang-undang, saya memiliki hak untuk melakukan protes.

Beberapa waktu lalu juga telah diterbitkan buku yang memuat dialog antara Ibnu Taimiyah dan Allamah Hilli. Ketika saya membaca buku itu, saya menjadi terheran-heran. Bagaimana mungkin mereka menisbatkan cara berpikir yang dangkal terhadap Allamah Hilli. Mereka berusaha menjatuhkan citra Allamah Hilli, yang di dunia Islam dikenal akan kejeniusannya, dalam berdialog dengan Ibnu Taimiyah?

Ibnu Hajar dalam bukunya "At-Tahdzib" dan "Lisan al-Mizan" (Lisan al-Mizan, jilid 13, hal 85, nomor 79), menyifati Allamah dengan ucapan: "Kana Ayatan Fi az-Dzaka" (Allamah al-Hilli adalah contoh kejeniusan).

Kembali pada buku dialog Allamah al-Hilli dengan Ibnu Taimiyah. Hanya ada dua kemungkinan; pertama, dialog itu dirubah oleh mereka atau kedua, secara utuh dialog itu direkayasa oleh mereka.

Semua ini menuntun kita pada satu hal, bahwa jangan sampai kita percaya pada data dan sumber-sumber rujukan yang mereka pakai untuk membenarkan akidah mereka. Harus melihat itu dengan kaca mata ragu sehingga melahirkan sikap untuk mengecek kembali kebenarannya.

Allah SWT berfirman: "Katakanlah:" Apakah akan Kami memberitahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya". Yaitu orang- orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik- baiknya" (Kahfi: 103-104).[infosyiah]