Popular Posts

Tuesday, February 15, 2011

Alhamdulillah, Konser Penghina Al-Quran di Malaysia Akhirnya Gagal




Mohsen Namjoo, penyanyi kontroversial asal Iran, akhirnya gagal menggelar konser di Kuala Lumpur. Menurut rencana sebelumnya, Namjoo akan tampil di Kuala Lumpur pada tanggal 18 Februari 2011 di KLCC Convention Centre.

Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Dr Rais Yatim sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Malaysia, Bernama, Selasa (14/2) menyatakan bahwa konser Mohsen Namjoo yang dijadwalkan akan berlangsung pada hari Jumaat ini, tidak dibenarkan karena konser itu dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama, aspek budaya dan sosial multi-ras di negara ini.

Situs The Malaysian Inside melaporkan Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Jamil Khir Baharom, hari Selasa (14/2) meminta Kementerian Dalam Negeri (KDN) membatalkan permit konser penyanyi Iran, Mohsen Namjoo. Menurutnya, konser Namjoo tidak sesuai dengan kebijakan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) bahwa lagu-lagu penyanyi Namjoo mempunyai unsur-unsur yang menghina al-Quran dan agama Islam.

"Dikhawatirkan jika diteruskan (konsert) itu boleh menimbulkan ketidakharmonisan masyarakat," kata Datuk Seri Jamil Khir Baharom kepada wartawan selepas menyambut kepulangan kumpulan terakhir pelajar Malaysia dari Jeddah, Arab Saudi di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).

Jamil Khir mengatakan kebijakan Jakim itu diputuskan setelah adanya laporan polisi yang dibuat anggota Parlemen Kulim-Bandar Baharu Zulkifli Noordin mengenai konser tersebut. Zulkifli dalam laporannya meminta pihak pemerintah menghentikan konser Namjoo di Malaysia. Dikatakannya, "Bagaimana penyanyi itu dibenarkan membuat persembahan di negara ini sedangkan beliau secara terbuka menghina Islam?!"

Menyusul gagalnya konser Namjoo, budayawan asal Malaysia, Dr Faisal Tehrani yang juga penerima sejumlah penghargaan sastra di tingkat internasional, mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Malaysia karena bersikap bijak dan matang dalam mereaksi rencana konser penghina Al-Quran asal Iran. Dikatakannya pula, "Seni dan budaya yang suci adalah seni budaya yang tauhidik profetik, bukannya satanik lagi nihil."

Sebelumnya, Dr Faisal Tehrani kepada wartawan IRIB menyesalkan reaksi media-media lokal yang tidak mereaksi konser ilegal Namjoo di Malaysia. IRIB pada tanggal 7 Februari lalu, mengangkat isu konser Namjoo dengan judul berita, "Penghina Al-Quran Gelar Konser di Malaysia." Menurut Faisal Tehrani, pemberitaan IRIB itu memancing wartawan dan wakli rakyat di negara ini untuk segera menyikapi konser terlarang Namjoo di Malaysia.

Namjoo adalah penyanyi yang menghina Al-Quran dalam lagu-lagunya. Pemerintah Iran juga menjatuhkan hukuman padanya, bahkan penyanyi ini menjadi buronan negara ini. Pada tahun 2009, pengadilan Iran menjatuhkan hukuman penjara lima tahun atas penyanyi ini. Menurut informasi yang ada, Namjoo kini bersembunyi di Vienna, Austria. (IRIB/Bernama/The Malaysian Inside/ AR/SL)

Monday, February 14, 2011

Pengkebumian Ayatullah Syaikh Muhammad Ali al Amri, salah seorang ulama Syiah Arab Saudi,




Jenazah al Marhum yang mulia dikebumikan di Jannatul Baqi di sisi para Imam Syiah iaitu Saidina Hasan (cucu Rasulullah saw), Imam Ali Zainal Abidin (cicit Rasulullah saw), Imam Baqir (piut Rasulullah saw) dan Imam Sadiq (oneng Rasulullah saw). Jika Syiah difatwa dan diwartakan kafir dan sesat seperti Ayah Pin dan Rasul Kahar mengapakah pihak berkuasa wahabi di Madinah Munawwarah merelakan jenazahnya dikebumikan di Baqi?

Pengkebumian Ulama Syiah Imamiah di Jannatul Baqi' Madinah

klik sini

Sheik Ayatullah Muhammad Ali al-Amri (ra) Shia Scholar, Madina Funeral..

Sunday, February 13, 2011

Eid Mubarak!..Congratulation to all lovers of Ahlulbayt 'Alaihimussalam!

10 Rabiul Awal : Hari perkahwinan Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa Aalih dengan Hadrat Khadijah Kubra 'Alaihassalam yang mana ketika Rasulullah berumur 25 tahun dan Khadijah 'Alaihassalam 40 tahun, bersempenaan perkahwinan mulia ini, bagi pencinta Ahlul Bait adalah mustahab berpuasa sebagai tanda kesyukuran.

Keindahan dan wangian syurga menggamit para hamba yang begitu mencintai ALLAH di atas dasar keimanan yang kukuh. Wujudnya keindahan itu berasal dari menghargai segala kebaikan yang dianugerahkan di bumi yang terbentang luas ini. Selamat Ulangtahun Perkahwinan Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa Aalih dan Khadijah 'Alaihassalam!.Semoga seluruh amalan kita diterima dengan kecintaan dan ketaatan kepada sebuah keluarga yang terpilih ini.
Congratulation to all lovers of Ahlulbayt 'Alaihimussalam!
Salam dan salavat dipersembahkan!


Ini adalah makam Khadijah 'Alaihissalam yang telah dimusnahkan oleh Nasibi(orang yang memusuhi Ahlulbayt Rasulullah)...

Tuesday, February 8, 2011

Lagi laporan media asing tentang minoriti Syiah yang ditindas di Malaysia.



Malaysian Shiites face uncertain future

By Romen Bose (AFP) – 1 day ago

KUALA LUMPUR — Like other Muslims they read the Koran and face Mecca to pray, but the Shiite community in Malaysia is considered a "deviant sect" and faces harassment in this multicultural country.

Religious authorities in December arrested 200 Shiites as they observed the holy day of Ashura, accusing them of threatening national security in a country where most of the 16.5 million Muslims are members of the Sunni sect.

The majority of those detained were Muslim Malays -- who dominate the Malaysian population -- joined by followers from Indonesia, Myanmar, Pakistan and Iran.

Former state religious department head Mohammed Khusrin Munawi, who led the December 16 raid, said that the faith, if left to grow, could undermine security as "fanatical followers of the sect consider other Muslims infidels".

"For them, the blood of the followers of other faiths is lawful which means that it is okay to kill (Sunnis)," he told the Utusan Malaysia newspaper.

"Shiite doctrine is more dangerous than other deviant teachings (as)... Shiite followers in Iran and India are fighting against other Muslims merely because of different faiths," he said.

The split dates back to a dispute over succession after the death of the Prophet Muhammad in 632.

In a country where non-Muslims are constitutionally free to practice their faith, the crackdown on an Islamic sect which forms the majority in other countries, including Iran and Iraq, has raised concerns.

"Everyone in the country should have freedom of worship," Reverend Thomas Philips, head of the country's largest inter-religious council, told AFP.

"But in the Muslim context in Malaysia, they have a different understanding and so it is a very sensitive issue."

The estimated 40,000 Shiites in Malaysia are one of several Islamic sects under close watch by religious authorities, who crack down hard on so-called deviant Islamic groups.

A 1989 Islamic law and a 1996 fatwa by Malaysia's top Islamic clerics banned Shiism, declaring it a deviant ideology.

Malaysia has a dual-track legal system, with civil courts running in parallel with Islamic Sharia courts where Muslim Malays can be tried on religious and moral charges.

However, Chandra Muzaffar, head of rights group JUST, says that religious officials are abusing their power.

"The Shiites are not deviants, they are very much part of the Muslim community and if you deny them, then you are saying that 15 percent of Muslims worldwide are also deviant," he said.



"They follow almost all the tenets of the majority Sunni sect and the differences are more political and historical so we should engage them through dialogue rather than carry out raids, arrest and prosecute them."

Kamil Zuhairi Abdul Aziz, 45, the Iranian-trained leader of the Hauzah ar-Redha or "Knowledge House" raided by authorities in December, says they are forced to practice their faith quietly.

"We are Muslims just like any other Muslims in the country but we live in fear as we are constantly attacked verbally and are often arrested and detained by authorities," he told AFP after prayers at the hauzah, the biggest of 40 Shiite community halls throughout the country.

"Shiism came to the shores of Malaysia in the 14th century when Islam arrived here as many of the Arabic, Indian and Persian traders who brought the religion were also Shiites.

"The authorities must recognise that we are not a recent phenomenon and that we should be respected just like any other faith in the country," he said in the hall filled with religious banners and pictures of Iran's Ayatollah Khomeini and President Mahmoud Ahmadinejad.

"We do not believe in bloodshed or that we are justified in killing anyone but yet these are the lies spread about us."

Community elder Muhammad Hassan, 72, said the last waves of arrests of Shiite followers in Malaysia came in 1997 and 2001.

He says his grandchildren are discriminated against in school and higher learning institutions, where religious teachers "criticise Shiites openly although they don't even understand or are bothered to even study our teachings."

State religious department head Marzuki Hussin told AFP "the bottom line is that Shiism clashes with Islam in Malaysia and so it cannot be allowed to propagate here as it can cause instability."




"We are happy to counsel the Shiite community on the practices of Malaysian Sunnis as what they are practising is a violation of our religious laws," he said.

Kamil, who was among those arrested in the December raid, will answer charges of preventing Islamic officials from carrying out their duties on February 17.

"Our future is very uncertain as we have lived here for centuries but now don't know for how long we can exist like this on the periphery of society," he said.

"We are treated as outcasts when we actually contribute much to society. We are fellow Muslims -- treat us as such."

Copyright © 2011 AFP. All rights reserved.

Hari Ini, Komisi HAM Malaysia Keluarkan Statemen Terkait Syiah



Budayawan dan sastrawan asal Malaysia, Faisal Tehrani, mengharapkan Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia (SUHAKAM) supay bersikap bijak dalam menyikapi kasus ajaran Ahlul Bait as di Malaysia. Menyusul dirilisnya statemen resmi SUHAKAM terkait Syiah pada hari ini, Faisal Tehrani mengapresiasi keseriusan SUHAKAM yang bersedia mengusut kasus Syiah dengan obyektif.

Ketika ditanya pernyataan terbaru Professor Datuk Dr. Mahmood Zuhdi Hj. A. Majid yang juga anggota SUHAKAM, Faisal Tehrani meminta Datuk Mahmood supaya menghindari pernyataan-pernyataan yang mengurangi kredibilitas SUHAKAM sebagai lembaga pelindung hak asasi manusia.

Belum lama ini, Datuk Mahmood dalam wawancaranya mengatakan, "Kalau (baca; Andai) Syiah dibenarkan berkembang di negara ini, baiknya tidak ada." Dikatakannya pula, "Bila Syiah dibenarkan, ini akan menimbulkan perpecahan."



Seraya mengkritik pernyataan Datuk Mahmoud, Faisal Tehrani menegaskan, "Mengapa argumentasi Syiah sebagai sumber perpecahan selalu dimunculkan, bukankah banyak masyarakat Tionhua, India, Dayak dan Iban di Malayasia dengan menganut berbagai ajaran. Apakah fenomena ini menimbulkan perpecahan di negara ini?!"

Belum lama ini, Ayatollah Jaafar Hadi dalam wawancaranya dengan IRIB mengatakan, "Makna Syiah adalah pengikut yang setia. Untuk itu, kesetiaan itu juga setidaknya harus ditunjukkan kepada sistem kerajaan di Malaysia. Itu terbukti bahwa komunitas Syiah di Malaysia tidak mendirikan sholat Jumat terpisah dengan masyarakat setempat. Mereka bergabung dalam shalat Jumat setempat karena tidak ada beda antara shalat Jumat Syiah dan Sunni." Menurut Ayatollah Jaafar Hadi, persatuan ummat adalah harga mati yang tidak dapat ditawar lagi. (IRIB/AR)

Monday, February 7, 2011

Ya Hussein!: Kisah seorang hakim dan wanita keturunan Rasul

Ya Hussein!: Kisah seorang hakim dan wanita keturunan Rasul

Kisah seorang hakim dan wanita keturunan Rasul




Dahulu kala, di Bashrah hidup seorang ‘alawiyah yang fakir dan memiliki empat orang putri. Kerana kemiskinannya, mereka tak memiliki apa-apa, tidak juga pakaian yang cukup. Saat hari raya mendekat, anaknya yang paling kecil menangis, “ibu, mungkinkah kita mendapat makanan? Mengapa pada eid seperti ini kita tak ada sepotong roti pun?”

Ibu itu pun merasa pedih dan menangis. Lalu dia keluar rumah dengan harapan dapat mencari sesuap makanan. Kebetulan, dia melalui rumah sorang hakim kota tersebut yang dikenali dengan nama Abul Hussein. Wanita itu lalu menjelaskan tentang keadaannya seraya berkata, “ketahuilah! Engkau akan dipertanyakan pada hari kiamat; jangan kau abaikan hak Ahlul Bait.”

Hakim itu berkata,”kemarilah esok; aku akan bekerja semampuku dan takkan mengurangi kebajikan padamu.”

‘Alawiah itu kembali ke rumah dan menjanjikan kepada putri-putrinya sesuatu yang menyenangkan. Salah seorang di antara mereka berkata,”Ibu, kalau seandainya hakim itu memberimu beberapa dirham wang perak,apa yang akan kau belikan untukku?”

Ibunya bertanya,”Apa yang kau inginkan?”

Putrinya menjawab,”Aku ingin sejumlah kapas yang akan kupintal dan tenun serta menjahitnya menjadi baju.”

Berkata yang lainnya, sejak ayah meninggal, kita tak pernah merasa roti seperti duhulu,selalunya ayah yang membawakanya untuk kita. Kalau ibu dapat wang, belikanlah untuk kami sesuatu seperti dahulu.”
Yang paling kecil berkata,”Aku juga inginkan satu roti yang bagus.”

Paginya, ibu itu berjalan menuju ke rumah hakim itu dan duduk di salah satu sudut. Orang memberitahukan kepada hakim itu bahwa wanita kemarin datang dan telah dijanjikan sesuatu sudah datang untuk menagih janjinya.

Hakim itu berteriak kepada wanita itu dan memerintahkan dua orang budaknya untuk mengusirkannya. ‘Alawiyah itu pun pergi sambil menangis. Hancur sudah hatinya... seraya meratap, dia berkata,”Apa yang mesti kukatakan kepada putri terkecilku, Fatimah, juga yang besar Zainab, saat keduanya melihat kepulanganku? Bagaimana aku harus menatap wajah-wajah mereka dan dengan lisan apa kuharus minta maaf?” kemudian, dia berkata, “Ya Allah, jangan kau putuskan harapanku... sungguh kuadukan kesulitanku pada-Mu dan kepada-Mu ku memohon keperluanku. Sesungguhnyn Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

Ketika itu,lalulah seorang Majusi yang menunggang kuda, sementara dia dalam keadaan mabuk. Dia mendengar tangisan dan ratapan wanita itu. Karena mabuk, dia menyangka wanita itu sedang bernyanyi, lalu berkata,”Betapa indah suaramu dan betapa sedih hatimu... apa kesusahanmu? “ ‘Alawiyah itu menyangka bahwa dia seorang muslim dan sempurna kesadarannya. Wanita itu pun menerangkan keadaannya kepada orang Majusi itu.

Orang Majusi itu pun memerintahkan dua budaknya untuk menemaninya ke rumahnya. Setibanya di sana, dia menyerahkan kepada wanita itu sebuah kotak berisi 400 asyrifi (mata wang waktu itu) dan lima potong pakaian. Dia berkata, “Ini untukmu dan untuk putri-putrimu.”

‘Alawiyah itu pun mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk Majusi itu kemudian meninggalkan. Ketika anak-anaknya melihat wang dan pakaian itu, mereka pun mendoakan orang Majusi itu. Mereka berkata, Semoga Allah menempatkannya di istana-istana syurga dan menjadikannya termasuk para wali dan kekasih-Nya.”

Pada malam itu sang hakim bermimpi; dia masuk ke sebuah kebun dan melihat beberapa istana nan megah. Ketika hendak memasukinya, Ridhwan (malaikat penjaga syurga -penerj.) mencegahnya. Ketika dia bertanya tentang sebabnya, malaikat itu menjawab, “Tadinya, ini adalah rumah dan tempat tinggalmu, seandainya engkau memenuhi janjimu kepada ‘alawiah itu dengan menghapus kegelisahan dan kesedihannya. Sekarang engkau telah berubah, maka berubah pula kenikmatan ini. Kenikmatan ini telah menjadi milik orang Majusi itu.”

Hakim itu bangun dalam ketakutan dan langsung menuju ke rumah Majusi itu seraya bertanya,”
Majusi itu menjawab,” Aku mabuk sejak seminggu lalu dan tak tahu apapun yang telah aku lakukan?”
Hakim itu berkata,”Bukan begitu masalahnya, fikirkan dan renungkanlah!”

Ketika tak terlintas apapun di benak si Majusi itu, pembantu dan kedua budaknya menyebut apa-apa yang telah diberikan Majusi itu kepada ‘alawiah tersebut. Hakim itu berkata,”Maukah kau jual padaku pahala amalmu itu dengan 10.000 asyrafi?”

Majusi itu menjawab,”Apa tujuan pertukaran itu?”

Hakim lantas menceritakan kepadanya kisah ‘alawiah itu dan segala yang terjadi dalam mimpinya. Maka,
berkatalah Majusi itu, “wahai hakim, jarang sekali amal manusia memperolehi keridhaan Allah, dan sekarang aku tahu bahawa amalku itu telah memperolehi keridhaan-Nya; bagaimana mungkin aku akan menukarnya dengan harta duniawi yang fana ini? Ulurkan tanganmu! Aku akan mengucap dua kalimah syahadat dan aku masuk Islam.”

Ya, dia masuk Islam dan menjadi lebih baik keislamannya (dibanding oran lain). Dia lantas mengutuskan seseorang untuk mencari ‘alawiah itu.kemudian, dia memberikan kepada ‘alawiah itu separuh dari hartanya.12 Fadhail sadat,hal.357-361

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah bersabda, “Ada tiga perkara yang barang siapa menjaganya
nescaya Allah s.w.t akan menjaga agama dan dunianya. Manakala barang siapa yang mengabaikannya maka Allah s.w.t tidak akan menjaganya sesuatu pun, iaitu kehormatan Islam, kehormatanku dan kehormatan kaum kerabatku.” (hadis riwayat al-hakim)

Kisah seorang hakim dan wanita keturunan Rasul saw)

Dahulu kala, di Bashrah hidup seorang ‘alawiyah yang fakir dan memiliki empat orang putri. Kerana kemiskinannya, mereka tak memiliki apa-apa, tidak juga pakaian yang cukup. Saat hari raya mendekat, anaknya yang paling kecil menangis, “ibu, mungkinkah kita mendapat makanan? Mengapa pada eid seperti ini kita tak ada sepotong roti pun?”

Ibu itu pun merasa pedih dan menangis. Lalu dia keluar rumah dengan harapan dapat mencari sesuap makanan. Kebetulan, dia melalui rumah sorang hakim kota tersebut yang dikenali dengan nama Abul Hussein. Wanita itu lalu menjelaskan tentang keadaannya seraya berkata, “ketahuilah! Engkau akan dipertanyakan pada hari kiamat; jangan kau abaikan hak Ahlul Bait.”

Hakim itu berkata,”kemarilah esok; aku akan bekerja semampuku dan takkan mengurangi kebajikan padamu.”

‘Alawiah itu kembali ke rumah dan menjanjikan kepada putri-putrinya sesuatu yang menyenangkan. Salah seorang di antara mereka berkata,”Ibu, kalau seandainya hakim itu memberimu beberapa dirham wang perak,apa yang akan kau belikan untukku?”

Ibunya bertanya,”Apa yang kau inginkan?”

Putrinya menjawab,”Aku ingin sejumlah kapas yang akan kupintal dan tenun serta menjahitnya menjadi baju.”

Berkata yang lainnya, sejak ayah meninggal, kita tak pernah merasa roti seperti duhulu,selalunya ayah yang membawakanya untuk kita. Kalau ibu dapat wang, belikanlah untuk kami sesuatu seperti dahulu.”
Yang paling kecil berkata,”Aku juga inginkan satu roti yang bagus.”

Paginya, ibu itu berjalan menuju ke rumah hakim itu dan duduk di salah satu sudut. Orang memberitahukan kepada hakim itu bahwa wanita kemarin datang dan telah dijanjikan sesuatu sudah datang untuk menagih janjinya.

Hakim itu berteriak kepada wanita itu dan memerintahkan dua orang budaknya untuk mengusirkannya. ‘Alawiyah itu pun pergi sambil menangis. Hancur sudah hatinya... seraya meratap, dia berkata,”Apa yang mesti kukatakan kepada putri terkecilku, Fatimah, juga yang besar Zainab, saat keduanya melihat kepulanganku? Bagaimana aku harus menatap wajah-wajah mereka dan dengan lisan apa kuharus minta maaf?” kemudian, dia berkata, “Ya Allah, jangan kau putuskan harapanku... sungguh kuadukan kesulitanku pada-Mu dan kepada-Mu ku memohon keperluanku. Sesungguhnyn Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

Ketika itu,lalulah seorang Majusi yang menunggang kuda, sementara dia dalam keadaan mabuk. Dia mendengar tangisan dan ratapan wanita itu. Karena mabuk, dia menyangka wanita itu sedang bernyanyi, lalu berkata,”Betapa indah suaramu dan betapa sedih hatimu... apa kesusahanmu? “ ‘Alawiyah itu menyangka bahwa dia seorang muslim dan sempurna kesadarannya. Wanita itu pun menerangkan keadaannya kepada orang Majusi itu.

Orang Majusi itu pun memerintahkan dua budaknya untuk menemaninya ke rumahnya. Setibanya di sana, dia menyerahkan kepada wanita itu sebuah kotak berisi 400 asyrifi (mata wang waktu itu) dan lima potong pakaian. Dia berkata, “Ini untukmu dan untuk putri-putrimu.”

‘Alawiyah itu pun mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk Majusi itu kemudian meninggalkan. Ketika anak-anaknya melihat wang dan pakaian itu, mereka pun mendoakan orang Majusi itu. Mereka berkata, Semoga Allah menempatkannya di istana-istana syurga dan menjadikannya termasuk para wali dan kekasih-Nya.”

Pada malam itu sang hakim bermimpi; dia masuk ke sebuah kebun dan melihat beberapa istana nan megah. Ketika hendak memasukinya, Ridhwan (malaikat penjaga syurga -penerj.) mencegahnya. Ketika dia bertanya tentang sebabnya, malaikat itu menjawab, “Tadinya, ini adalah rumah dan tempat tinggalmu, seandainya engkau memenuhi janjimu kepada ‘alawiah itu dengan menghapus kegelisahan dan kesedihannya. Sekarang engkau telah berubah, maka berubah pula kenikmatan ini. Kenikmatan ini telah menjadi milik orang Majusi itu.”

Hakim itu bangun dalam ketakutan dan langsung menuju ke rumah Majusi itu seraya bertanya,”
Majusi itu menjawab,” Aku mabuk sejak seminggu lalu dan tak tahu apapun yang telah aku lakukan?”
Hakim itu berkata,”Bukan begitu masalahnya, fikirkan dan renungkanlah!”

Ketika tak terlintas apapun di benak si Majusi itu, pembantu dan kedua budaknya menyebut apa-apa yang telah diberikan Majusi itu kepada ‘alawiah tersebut. Hakim itu berkata,”Maukah kau jual padaku pahala amalmu itu dengan 10.000 asyrafi?”

Majusi itu menjawab,”Apa tujuan pertukaran itu?”

Hakim lantas menceritakan kepadanya kisah ‘alawiah itu dan segala yang terjadi dalam mimpinya. Maka,
berkatalah Majusi itu, “wahai hakim, jarang sekali amal manusia memperolehi keridhaan Allah, dan sekarang aku tahu bahawa amalku itu telah memperolehi keridhaan-Nya; bagaimana mungkin aku akan menukarnya dengan harta duniawi yang fana ini? Ulurkan tanganmu! Aku akan mengucap dua kalimah syahadat dan aku masuk Islam.”

Ya, dia masuk Islam dan menjadi lebih baik keislamannya (dibanding oran lain). Dia lantas mengutuskan seseorang untuk mencari ‘alawiah itu.kemudian, dia memberikan kepada ‘alawiah itu separuh dari hartanya.12 Fadhail sadat,hal.357-361

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah bersabda, “Ada tiga perkara yang barang siapa menjaganya
nescaya Allah s.w.t akan menjaga agama dan dunianya. Manakala barang siapa yang mengabaikannya maka Allah s.w.t tidak akan menjaganya sesuatu pun, iaitu kehormatan Islam, kehormatanku dan kehormatan kaum kerabatku.” (hadis riwayat al-hakim)