Popular Posts

Tuesday, February 8, 2011

Lagi laporan media asing tentang minoriti Syiah yang ditindas di Malaysia.



Malaysian Shiites face uncertain future

By Romen Bose (AFP) – 1 day ago

KUALA LUMPUR — Like other Muslims they read the Koran and face Mecca to pray, but the Shiite community in Malaysia is considered a "deviant sect" and faces harassment in this multicultural country.

Religious authorities in December arrested 200 Shiites as they observed the holy day of Ashura, accusing them of threatening national security in a country where most of the 16.5 million Muslims are members of the Sunni sect.

The majority of those detained were Muslim Malays -- who dominate the Malaysian population -- joined by followers from Indonesia, Myanmar, Pakistan and Iran.

Former state religious department head Mohammed Khusrin Munawi, who led the December 16 raid, said that the faith, if left to grow, could undermine security as "fanatical followers of the sect consider other Muslims infidels".

"For them, the blood of the followers of other faiths is lawful which means that it is okay to kill (Sunnis)," he told the Utusan Malaysia newspaper.

"Shiite doctrine is more dangerous than other deviant teachings (as)... Shiite followers in Iran and India are fighting against other Muslims merely because of different faiths," he said.

The split dates back to a dispute over succession after the death of the Prophet Muhammad in 632.

In a country where non-Muslims are constitutionally free to practice their faith, the crackdown on an Islamic sect which forms the majority in other countries, including Iran and Iraq, has raised concerns.

"Everyone in the country should have freedom of worship," Reverend Thomas Philips, head of the country's largest inter-religious council, told AFP.

"But in the Muslim context in Malaysia, they have a different understanding and so it is a very sensitive issue."

The estimated 40,000 Shiites in Malaysia are one of several Islamic sects under close watch by religious authorities, who crack down hard on so-called deviant Islamic groups.

A 1989 Islamic law and a 1996 fatwa by Malaysia's top Islamic clerics banned Shiism, declaring it a deviant ideology.

Malaysia has a dual-track legal system, with civil courts running in parallel with Islamic Sharia courts where Muslim Malays can be tried on religious and moral charges.

However, Chandra Muzaffar, head of rights group JUST, says that religious officials are abusing their power.

"The Shiites are not deviants, they are very much part of the Muslim community and if you deny them, then you are saying that 15 percent of Muslims worldwide are also deviant," he said.



"They follow almost all the tenets of the majority Sunni sect and the differences are more political and historical so we should engage them through dialogue rather than carry out raids, arrest and prosecute them."

Kamil Zuhairi Abdul Aziz, 45, the Iranian-trained leader of the Hauzah ar-Redha or "Knowledge House" raided by authorities in December, says they are forced to practice their faith quietly.

"We are Muslims just like any other Muslims in the country but we live in fear as we are constantly attacked verbally and are often arrested and detained by authorities," he told AFP after prayers at the hauzah, the biggest of 40 Shiite community halls throughout the country.

"Shiism came to the shores of Malaysia in the 14th century when Islam arrived here as many of the Arabic, Indian and Persian traders who brought the religion were also Shiites.

"The authorities must recognise that we are not a recent phenomenon and that we should be respected just like any other faith in the country," he said in the hall filled with religious banners and pictures of Iran's Ayatollah Khomeini and President Mahmoud Ahmadinejad.

"We do not believe in bloodshed or that we are justified in killing anyone but yet these are the lies spread about us."

Community elder Muhammad Hassan, 72, said the last waves of arrests of Shiite followers in Malaysia came in 1997 and 2001.

He says his grandchildren are discriminated against in school and higher learning institutions, where religious teachers "criticise Shiites openly although they don't even understand or are bothered to even study our teachings."

State religious department head Marzuki Hussin told AFP "the bottom line is that Shiism clashes with Islam in Malaysia and so it cannot be allowed to propagate here as it can cause instability."




"We are happy to counsel the Shiite community on the practices of Malaysian Sunnis as what they are practising is a violation of our religious laws," he said.

Kamil, who was among those arrested in the December raid, will answer charges of preventing Islamic officials from carrying out their duties on February 17.

"Our future is very uncertain as we have lived here for centuries but now don't know for how long we can exist like this on the periphery of society," he said.

"We are treated as outcasts when we actually contribute much to society. We are fellow Muslims -- treat us as such."

Copyright © 2011 AFP. All rights reserved.

Hari Ini, Komisi HAM Malaysia Keluarkan Statemen Terkait Syiah



Budayawan dan sastrawan asal Malaysia, Faisal Tehrani, mengharapkan Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia (SUHAKAM) supay bersikap bijak dalam menyikapi kasus ajaran Ahlul Bait as di Malaysia. Menyusul dirilisnya statemen resmi SUHAKAM terkait Syiah pada hari ini, Faisal Tehrani mengapresiasi keseriusan SUHAKAM yang bersedia mengusut kasus Syiah dengan obyektif.

Ketika ditanya pernyataan terbaru Professor Datuk Dr. Mahmood Zuhdi Hj. A. Majid yang juga anggota SUHAKAM, Faisal Tehrani meminta Datuk Mahmood supaya menghindari pernyataan-pernyataan yang mengurangi kredibilitas SUHAKAM sebagai lembaga pelindung hak asasi manusia.

Belum lama ini, Datuk Mahmood dalam wawancaranya mengatakan, "Kalau (baca; Andai) Syiah dibenarkan berkembang di negara ini, baiknya tidak ada." Dikatakannya pula, "Bila Syiah dibenarkan, ini akan menimbulkan perpecahan."



Seraya mengkritik pernyataan Datuk Mahmoud, Faisal Tehrani menegaskan, "Mengapa argumentasi Syiah sebagai sumber perpecahan selalu dimunculkan, bukankah banyak masyarakat Tionhua, India, Dayak dan Iban di Malayasia dengan menganut berbagai ajaran. Apakah fenomena ini menimbulkan perpecahan di negara ini?!"

Belum lama ini, Ayatollah Jaafar Hadi dalam wawancaranya dengan IRIB mengatakan, "Makna Syiah adalah pengikut yang setia. Untuk itu, kesetiaan itu juga setidaknya harus ditunjukkan kepada sistem kerajaan di Malaysia. Itu terbukti bahwa komunitas Syiah di Malaysia tidak mendirikan sholat Jumat terpisah dengan masyarakat setempat. Mereka bergabung dalam shalat Jumat setempat karena tidak ada beda antara shalat Jumat Syiah dan Sunni." Menurut Ayatollah Jaafar Hadi, persatuan ummat adalah harga mati yang tidak dapat ditawar lagi. (IRIB/AR)

Monday, February 7, 2011

Ya Hussein!: Kisah seorang hakim dan wanita keturunan Rasul

Ya Hussein!: Kisah seorang hakim dan wanita keturunan Rasul

Kisah seorang hakim dan wanita keturunan Rasul




Dahulu kala, di Bashrah hidup seorang ‘alawiyah yang fakir dan memiliki empat orang putri. Kerana kemiskinannya, mereka tak memiliki apa-apa, tidak juga pakaian yang cukup. Saat hari raya mendekat, anaknya yang paling kecil menangis, “ibu, mungkinkah kita mendapat makanan? Mengapa pada eid seperti ini kita tak ada sepotong roti pun?”

Ibu itu pun merasa pedih dan menangis. Lalu dia keluar rumah dengan harapan dapat mencari sesuap makanan. Kebetulan, dia melalui rumah sorang hakim kota tersebut yang dikenali dengan nama Abul Hussein. Wanita itu lalu menjelaskan tentang keadaannya seraya berkata, “ketahuilah! Engkau akan dipertanyakan pada hari kiamat; jangan kau abaikan hak Ahlul Bait.”

Hakim itu berkata,”kemarilah esok; aku akan bekerja semampuku dan takkan mengurangi kebajikan padamu.”

‘Alawiah itu kembali ke rumah dan menjanjikan kepada putri-putrinya sesuatu yang menyenangkan. Salah seorang di antara mereka berkata,”Ibu, kalau seandainya hakim itu memberimu beberapa dirham wang perak,apa yang akan kau belikan untukku?”

Ibunya bertanya,”Apa yang kau inginkan?”

Putrinya menjawab,”Aku ingin sejumlah kapas yang akan kupintal dan tenun serta menjahitnya menjadi baju.”

Berkata yang lainnya, sejak ayah meninggal, kita tak pernah merasa roti seperti duhulu,selalunya ayah yang membawakanya untuk kita. Kalau ibu dapat wang, belikanlah untuk kami sesuatu seperti dahulu.”
Yang paling kecil berkata,”Aku juga inginkan satu roti yang bagus.”

Paginya, ibu itu berjalan menuju ke rumah hakim itu dan duduk di salah satu sudut. Orang memberitahukan kepada hakim itu bahwa wanita kemarin datang dan telah dijanjikan sesuatu sudah datang untuk menagih janjinya.

Hakim itu berteriak kepada wanita itu dan memerintahkan dua orang budaknya untuk mengusirkannya. ‘Alawiyah itu pun pergi sambil menangis. Hancur sudah hatinya... seraya meratap, dia berkata,”Apa yang mesti kukatakan kepada putri terkecilku, Fatimah, juga yang besar Zainab, saat keduanya melihat kepulanganku? Bagaimana aku harus menatap wajah-wajah mereka dan dengan lisan apa kuharus minta maaf?” kemudian, dia berkata, “Ya Allah, jangan kau putuskan harapanku... sungguh kuadukan kesulitanku pada-Mu dan kepada-Mu ku memohon keperluanku. Sesungguhnyn Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

Ketika itu,lalulah seorang Majusi yang menunggang kuda, sementara dia dalam keadaan mabuk. Dia mendengar tangisan dan ratapan wanita itu. Karena mabuk, dia menyangka wanita itu sedang bernyanyi, lalu berkata,”Betapa indah suaramu dan betapa sedih hatimu... apa kesusahanmu? “ ‘Alawiyah itu menyangka bahwa dia seorang muslim dan sempurna kesadarannya. Wanita itu pun menerangkan keadaannya kepada orang Majusi itu.

Orang Majusi itu pun memerintahkan dua budaknya untuk menemaninya ke rumahnya. Setibanya di sana, dia menyerahkan kepada wanita itu sebuah kotak berisi 400 asyrifi (mata wang waktu itu) dan lima potong pakaian. Dia berkata, “Ini untukmu dan untuk putri-putrimu.”

‘Alawiyah itu pun mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk Majusi itu kemudian meninggalkan. Ketika anak-anaknya melihat wang dan pakaian itu, mereka pun mendoakan orang Majusi itu. Mereka berkata, Semoga Allah menempatkannya di istana-istana syurga dan menjadikannya termasuk para wali dan kekasih-Nya.”

Pada malam itu sang hakim bermimpi; dia masuk ke sebuah kebun dan melihat beberapa istana nan megah. Ketika hendak memasukinya, Ridhwan (malaikat penjaga syurga -penerj.) mencegahnya. Ketika dia bertanya tentang sebabnya, malaikat itu menjawab, “Tadinya, ini adalah rumah dan tempat tinggalmu, seandainya engkau memenuhi janjimu kepada ‘alawiah itu dengan menghapus kegelisahan dan kesedihannya. Sekarang engkau telah berubah, maka berubah pula kenikmatan ini. Kenikmatan ini telah menjadi milik orang Majusi itu.”

Hakim itu bangun dalam ketakutan dan langsung menuju ke rumah Majusi itu seraya bertanya,”
Majusi itu menjawab,” Aku mabuk sejak seminggu lalu dan tak tahu apapun yang telah aku lakukan?”
Hakim itu berkata,”Bukan begitu masalahnya, fikirkan dan renungkanlah!”

Ketika tak terlintas apapun di benak si Majusi itu, pembantu dan kedua budaknya menyebut apa-apa yang telah diberikan Majusi itu kepada ‘alawiah tersebut. Hakim itu berkata,”Maukah kau jual padaku pahala amalmu itu dengan 10.000 asyrafi?”

Majusi itu menjawab,”Apa tujuan pertukaran itu?”

Hakim lantas menceritakan kepadanya kisah ‘alawiah itu dan segala yang terjadi dalam mimpinya. Maka,
berkatalah Majusi itu, “wahai hakim, jarang sekali amal manusia memperolehi keridhaan Allah, dan sekarang aku tahu bahawa amalku itu telah memperolehi keridhaan-Nya; bagaimana mungkin aku akan menukarnya dengan harta duniawi yang fana ini? Ulurkan tanganmu! Aku akan mengucap dua kalimah syahadat dan aku masuk Islam.”

Ya, dia masuk Islam dan menjadi lebih baik keislamannya (dibanding oran lain). Dia lantas mengutuskan seseorang untuk mencari ‘alawiah itu.kemudian, dia memberikan kepada ‘alawiah itu separuh dari hartanya.12 Fadhail sadat,hal.357-361

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah bersabda, “Ada tiga perkara yang barang siapa menjaganya
nescaya Allah s.w.t akan menjaga agama dan dunianya. Manakala barang siapa yang mengabaikannya maka Allah s.w.t tidak akan menjaganya sesuatu pun, iaitu kehormatan Islam, kehormatanku dan kehormatan kaum kerabatku.” (hadis riwayat al-hakim)

Kisah seorang hakim dan wanita keturunan Rasul saw)

Dahulu kala, di Bashrah hidup seorang ‘alawiyah yang fakir dan memiliki empat orang putri. Kerana kemiskinannya, mereka tak memiliki apa-apa, tidak juga pakaian yang cukup. Saat hari raya mendekat, anaknya yang paling kecil menangis, “ibu, mungkinkah kita mendapat makanan? Mengapa pada eid seperti ini kita tak ada sepotong roti pun?”

Ibu itu pun merasa pedih dan menangis. Lalu dia keluar rumah dengan harapan dapat mencari sesuap makanan. Kebetulan, dia melalui rumah sorang hakim kota tersebut yang dikenali dengan nama Abul Hussein. Wanita itu lalu menjelaskan tentang keadaannya seraya berkata, “ketahuilah! Engkau akan dipertanyakan pada hari kiamat; jangan kau abaikan hak Ahlul Bait.”

Hakim itu berkata,”kemarilah esok; aku akan bekerja semampuku dan takkan mengurangi kebajikan padamu.”

‘Alawiah itu kembali ke rumah dan menjanjikan kepada putri-putrinya sesuatu yang menyenangkan. Salah seorang di antara mereka berkata,”Ibu, kalau seandainya hakim itu memberimu beberapa dirham wang perak,apa yang akan kau belikan untukku?”

Ibunya bertanya,”Apa yang kau inginkan?”

Putrinya menjawab,”Aku ingin sejumlah kapas yang akan kupintal dan tenun serta menjahitnya menjadi baju.”

Berkata yang lainnya, sejak ayah meninggal, kita tak pernah merasa roti seperti duhulu,selalunya ayah yang membawakanya untuk kita. Kalau ibu dapat wang, belikanlah untuk kami sesuatu seperti dahulu.”
Yang paling kecil berkata,”Aku juga inginkan satu roti yang bagus.”

Paginya, ibu itu berjalan menuju ke rumah hakim itu dan duduk di salah satu sudut. Orang memberitahukan kepada hakim itu bahwa wanita kemarin datang dan telah dijanjikan sesuatu sudah datang untuk menagih janjinya.

Hakim itu berteriak kepada wanita itu dan memerintahkan dua orang budaknya untuk mengusirkannya. ‘Alawiyah itu pun pergi sambil menangis. Hancur sudah hatinya... seraya meratap, dia berkata,”Apa yang mesti kukatakan kepada putri terkecilku, Fatimah, juga yang besar Zainab, saat keduanya melihat kepulanganku? Bagaimana aku harus menatap wajah-wajah mereka dan dengan lisan apa kuharus minta maaf?” kemudian, dia berkata, “Ya Allah, jangan kau putuskan harapanku... sungguh kuadukan kesulitanku pada-Mu dan kepada-Mu ku memohon keperluanku. Sesungguhnyn Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

Ketika itu,lalulah seorang Majusi yang menunggang kuda, sementara dia dalam keadaan mabuk. Dia mendengar tangisan dan ratapan wanita itu. Karena mabuk, dia menyangka wanita itu sedang bernyanyi, lalu berkata,”Betapa indah suaramu dan betapa sedih hatimu... apa kesusahanmu? “ ‘Alawiyah itu menyangka bahwa dia seorang muslim dan sempurna kesadarannya. Wanita itu pun menerangkan keadaannya kepada orang Majusi itu.

Orang Majusi itu pun memerintahkan dua budaknya untuk menemaninya ke rumahnya. Setibanya di sana, dia menyerahkan kepada wanita itu sebuah kotak berisi 400 asyrifi (mata wang waktu itu) dan lima potong pakaian. Dia berkata, “Ini untukmu dan untuk putri-putrimu.”

‘Alawiyah itu pun mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk Majusi itu kemudian meninggalkan. Ketika anak-anaknya melihat wang dan pakaian itu, mereka pun mendoakan orang Majusi itu. Mereka berkata, Semoga Allah menempatkannya di istana-istana syurga dan menjadikannya termasuk para wali dan kekasih-Nya.”

Pada malam itu sang hakim bermimpi; dia masuk ke sebuah kebun dan melihat beberapa istana nan megah. Ketika hendak memasukinya, Ridhwan (malaikat penjaga syurga -penerj.) mencegahnya. Ketika dia bertanya tentang sebabnya, malaikat itu menjawab, “Tadinya, ini adalah rumah dan tempat tinggalmu, seandainya engkau memenuhi janjimu kepada ‘alawiah itu dengan menghapus kegelisahan dan kesedihannya. Sekarang engkau telah berubah, maka berubah pula kenikmatan ini. Kenikmatan ini telah menjadi milik orang Majusi itu.”

Hakim itu bangun dalam ketakutan dan langsung menuju ke rumah Majusi itu seraya bertanya,”
Majusi itu menjawab,” Aku mabuk sejak seminggu lalu dan tak tahu apapun yang telah aku lakukan?”
Hakim itu berkata,”Bukan begitu masalahnya, fikirkan dan renungkanlah!”

Ketika tak terlintas apapun di benak si Majusi itu, pembantu dan kedua budaknya menyebut apa-apa yang telah diberikan Majusi itu kepada ‘alawiah tersebut. Hakim itu berkata,”Maukah kau jual padaku pahala amalmu itu dengan 10.000 asyrafi?”

Majusi itu menjawab,”Apa tujuan pertukaran itu?”

Hakim lantas menceritakan kepadanya kisah ‘alawiah itu dan segala yang terjadi dalam mimpinya. Maka,
berkatalah Majusi itu, “wahai hakim, jarang sekali amal manusia memperolehi keridhaan Allah, dan sekarang aku tahu bahawa amalku itu telah memperolehi keridhaan-Nya; bagaimana mungkin aku akan menukarnya dengan harta duniawi yang fana ini? Ulurkan tanganmu! Aku akan mengucap dua kalimah syahadat dan aku masuk Islam.”

Ya, dia masuk Islam dan menjadi lebih baik keislamannya (dibanding oran lain). Dia lantas mengutuskan seseorang untuk mencari ‘alawiah itu.kemudian, dia memberikan kepada ‘alawiah itu separuh dari hartanya.12 Fadhail sadat,hal.357-361

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah bersabda, “Ada tiga perkara yang barang siapa menjaganya
nescaya Allah s.w.t akan menjaga agama dan dunianya. Manakala barang siapa yang mengabaikannya maka Allah s.w.t tidak akan menjaganya sesuatu pun, iaitu kehormatan Islam, kehormatanku dan kehormatan kaum kerabatku.” (hadis riwayat al-hakim)

Sunday, February 6, 2011

khutbah Jumaat Ayatullah Sayyed Ali Khamenei








Supreme Leader Leads Tehran Friday Prayers
05/02/2011

Ayatollah Khamenei the Supreme Leader of the Islamic Revolution led Tehran's Friday prayers today. Speaking to an impressive gathering of the faithful and revolutionary people of Tehran, Ayatollah Khamenei explained the fundamental changes caused by the Islamic Revolution and stressed: "Thanks to the resistance of the nation, these deep-rooted changes have continued throughout the past 32 years. And after years of selfless efforts, the people of Iran can now witness the reflection of their oppressed, yet powerful yell in the events of North Africa, especially in Islamic Awakening of the people of Egypt and Tunisia."

The Supreme Leader of the Islamic Revolution analyzed the conditions that existed before the victory of the Islamic Revolution in Iran and the effect of the Revolution on political equations of the world. He reiterated: "The bullying and arrogant powers of the world had prepared a meticulous plan in order to protect and promote their interests in the critical and strategic Middle East region. And they successfully practiced the plan for years, but the victory of the Islamic Revolution ruined all their equations."

Explaining the details of the arrogant powers' plan for the Middle East region up until the victory of the Islamic Revolution, Ayatollah Khamenei said, "Weak countries which are hostile to each other, countries which are governed by rulers who are installed by the west and are obedient to it, countries which are consumers from an economic point of view, countries which are backward in terms of science, countries which follow the west in cultural areas, countries which are militarily weak, countries which are morally corrupt and degenerate, countries which are completely superficial in terms of religion, countries whose religious faith is limited to personal and ceremonial matters - these were the characteristics which the arrogant powers had defined for the Middle East countries."

His Eminence said that the great explosion caused by the Islamic Revolution and the emergence of Imam Khomeini (r.a.) as a prominent, wise, selfless, courageous and influential religious scholar ruined the strategy of the west in the extremely important Middle East region. He added that the emergence and presence of Imam Khomeini (r.a.) were indeed an act of God.



The Supreme Leader of the Islamic Revolution stated that the Iranian nation's vigilance, preparedness and unfailing support for Imam Khomeini (r.a.) prepared the ground for the victory of the Islamic Revolution. He added: "The Imam and the people stood firm as a mountain to help the Islamic Revolution continue and achieve victory, and whatever the enemy's camp did, it could not defeat this great Islamic Revolution or change its path."

His Eminence reminded the audience of the measures and plots of the enemies which were aimed at defeating the Revolution and referred to the enemy's efforts to cause street fighting, ethnic conflicts and coups, the imposition of the eight-year war and economic sanctions on Iran and their relentless and non-stop psychological warfare throughout the past 32 years. "In all these measures the enemy has been pursuing three main goals."

The Supreme Leader of the Islamic Revolution said that overthrowing the Islamic Republic has been the most important goal of the camp of the enemies throughout the past 32 years. He added: "In case the first plan failed, the second goal of America was to transform the Revolution so that the form and the appearance of the Revolution were preserved, but its nature and spirit were destroyed."

His Eminence referred to the fitna of the year 1388 as the latest plot of the enemies to transform the Revolution and reiterated: "In that fitna the designers and masterminds were outside our borders, and some people fell for their machinations because of their love for power and human desires and cooperated with them knowingly or unknowingly."

Explaining the third goal of the camp of hegemony, the Supreme Leader of the Islamic Revolution added: "If the Islamic system remained in power in spite of all their efforts, the decision was to put weak and suggestible elements in charge of our national affairs and create a weak and obedient system that would not stand up against America."

His Eminence said that the vigilance of the people of Iran and the competence of the elites and government officials of the country were the reason why the enemies failed to achieve their goals. He added: "Due to its depth and nature, the Revolution has caused fundamental changes in the country, and the Imam and the people have built such firm foundations that this great movement will continue to prevail."

Explaining the deep-rooted and fundamental changes that took place in Iran after the victory of the Revolution, Ayatollah Khamenei referred to the efforts of the Pahlavi regime to fight Islam and added: "The Revolution completely changed this policy and made Islam the pivot of managing our society."

Ayatollah Khamenei said that the second consequence of the victory of the Revolution was to put an end to the country's dependence on America and England and to turn Iran into a perfect example of political independence in the world.



The Supreme Leader of the Islamic Revolution reiterated: "This political independence and dignity is the most attractive thing to nations, and an important part of the respect that nations have for the Islamic Revolution is due to this important characteristic."

Ayatollah Khamenei said that the people had no role in the government during the time of the Pahlavi regime, adding: "After the Islamic Revolution religious democracy became the foundation of government. And unlike the era before the Revolution when government was hereditary, the will of the people became a determining factor in government."

His Eminence reminded the audience of the security-based dictatorship before the victory of the Islamic Revolution and reiterated: "The Islamic Revolution created an atmosphere for the people to criticize, advise and even protest. And this process has been preserved throughout the past 32 years."

Ayatollah Khamenei referred to scientific confidence and national self-confidence as other achievements of the Islamic Revolution and reiterated: "Before the victory of the Revolution, the country was completely dependent on the west in terms of science and technology, but today apart from the amazing scientific and technological advances, our country enjoys young, prominent and great scientists in different fields."

His Eminence referred to Iran's significant role in regional and global issues as another consequence of the victory of the Islamic Revolution. "Today the dignity and greatness of the Iranian nation and its influence over regional and global issues have astonished the enemies, and they are constantly speaking about Iran's increasing influence."

The Supreme Leader of the Islamic Revolution said that the Revolution put an end to complete imitation in cultural arenas and caused the enemies to design cultural attacks. He added: "With such characteristics and bases, the country can establish the foundations of a new civilization in the world."

His Eminence quoted a western official as saying that the advanced and populist Constitution of the Islamic Republic has the capacity for becoming a role model. He further added: "In spite of the obstructionism by the enemies of the nation, this has already happened, and the Iranian nation has become a role model for other nations in different dimensions."

His Eminence said that some of the mistakes made by the west played a role in helping the Iranian nation and the Islamic Republic to become a role model. He added: "Their persistent efforts to violate the nuclear rights of the Iranian nation caused the Iranian nation and its government officials to resist more, and all people across the world realized that Iran has achieved unexpected advances in nuclear technology and that no kind of pressure can force the Iranian nation to retreat."



The Supreme Leader of the Islamic Revolution said that imposing military sanctions on Iran and creating radical Islamic movements in Iran's neighboring countries were among the mistakes of the west that ultimately contributed to the strengthening of Iran.

Ayatollah Khamenei added: "In the fitna of the year 1388, they created so much uproar that the people stepped in and gave rise to the epic of the 9th of Dey."
At the end of the first sermon, His Eminence reiterated: "If a revolution wants to affect others, it must have certain characteristics - mostly importantly, resistance and steadfastness."

Explaining the insistence of the people and the Islamic system on the principles of the Revolution, Ayatollah Khamenei said: "Since the beginning of the Revolution the Imam and the people insisted on the Islamic characteristics of the Revolution, but some people created uproar in the world and said that being Islamic is not consistent with being democratic. Of course the people and the Imam stood firm and disregarded this uproar. They yelled that their Revolution is Islamic and will remain Islamic."

The Supreme Leader of the Islamic Revolution said that insistence on democracy is another example showing that the foundations and characteristics of the Revolution have been preserved. "Since the first day after the victory of the Revolution, the Imam used to stress that the people should express their opinions, and this characteristic has been preserved so far in all matters and all elections."
His Eminence stated that more than 30 elections have been held during the past 32 years and added: "Even during the war, when the country was being bombed and targeted with missiles, our elections were not delayed even a single day, and this is the real meaning of insistence on democracy."

His Eminence said that establishing social justice is more important and more difficult than all other achievements and reiterated: "There is a lot of difference between the kind of justice that we have in the country and the kind of justice that Islam demands. But the important point is that the movement towards social justice is still continuing and that it has gained momentum."

Ayatollah Khamenei referred to the efforts by some people after the Revolution to undermine the ideal of fighting oppression and added that the plan was to make forming relations with America look normal by sidelining the revolutionary slogans. "Then they wanted to gradually force the country to obey America's policies."
Speaking during the second sermon, the Supreme Leader of the Islamic Revolution referred to the recent events in North Africa, especially Tunisia and Egypt, as very important and described them as a real earthquake. "If the Egyptian people manage to continue their movement with the help of God, they will cause an irreparable failure for America and the Zionist regime in the region."

His Eminence referred to the increasing concerns of the Zionist regime about the developments in Egypt and reiterated: "The Zionists know better than anybody else what great events will happen in the region if Egypt stops supporting them. These events will result in realizing the prophecy of our magnanimous Imam."

Discussing the causes of the recent developments in Egypt and Tunisia, the Supreme Leader of the Islamic Revolution referred to the misleading analyses of the westerners and added: "In global analyses, they try to say that the main reason behind the uprising the of the people of Tunisia and Egypt was economic issues alone. This is while the main reason is the feeling of humiliation that has been created among the people of Tunisia and Egypt because of the performance of their rulers."



Ayatollah Khamenei referred to the performance of Bin Ali during his rule over Tunisia and reiterated: "Bin Ali was completely dependent on America, and some reports even show that he was connected with the intelligence service of America."
His Eminence added: "It is very difficult for a nation to see that their ruler is officially a servant of American organizations, and this was one of the reasons behind the uprising of the people of Tunisia."

The Supreme Leader of the Islamic Revolution referred to Bin Ali's anti-religion policies in Tunisia - especially the banning of religious slogans and hijab in public places - and reiterated: "One of the main motives behind the uprising of the people of Tunisia was their love for Islam, and western analysts are trying to deny this issue."

Ayatollah Khamenei added: "A superficial change has taken place in Tunisia now, and the people of Tunisia should vigilantly identify their interests and not fall for the enemy's deception."

His Eminence referred to the crucial developments in Egypt and its historical, cultural, political and religious background and added: "Egypt was the first Islamic country that became familiar with western culture in the 18th century, and it was also the first Islamic country that stood up against this culture."

Ayatollah Khamenei described Egypt as a historical stronghold for Islamic activists and intellectuals.

Discussing the intellectual and political position of Egypt, His Eminence referred to the liberation movements in Egypt and to the Egyptian army's battles against the Zionist regime. He further added: "With such a historical position and record, for thirty years Egypt was in the hands of a person who was neither after freedom nor opposed to the Zionists. On the contrary, he was an enemy of seeking freedom and an ally and servant of the Zionists."

The Supreme Leader of the Islamic Revolution reiterated that during the rule of Mubarak the situation of Egypt became so bad that it went from being inspirational to the world of Islam to being an ally of the Zionists and an enemy of the Palestinians.

Ayatollah Khamenei referred to Hosni Mubarak's performance during the 22-day war on the people Gaza and added: "His performance frustrated the people of Egypt because the Egyptian government had turned into a supporter of Israel and a devoted follower of America, and the people of Egypt felt completely humiliated."

His Eminence referred to the Egyptian people's historical fight for Islam and said that religious motives are one of the most important factors behind the movement of the people of Egypt. "The people of Egypt start their movements from Friday prayers and mosques, and they shout religious slogans, especially Allahu Akbar. And the most powerful opposition movement in Egypt is the Islamic movement."

The Supreme Leader of the Islamic Revolution added: "Westerners are extremely concerned about the fact that the Islamic motives behind the uprising of the people of Egypt may become clear to the people of the region. Therefore, they try to present the economic factor as the only factor behind the public movement."

Ayatollah Khamenei stressed: "This economic factor, which is not insignificant, is the result of Mubarak's dependence and his services to America. And this has prevented the economy of Egypt from developing, and the situation has become so bad that hundreds of thousands of people in Cairo live in cemeteries because of poverty."

His Eminence added: "The Americans did not even give an economic reward to a servant like Mubarak. They will not reward him today either, and the minute the ruler of Egypt flees the country, definitely the first gates that will be closed to him will be the gates of America - just as they closed their doors to Bin Ali and Mohammad Reza Pahlavi."

The Supreme Leader of the Islamic Revolution reiterated: "These events are a lesson for those who are enthusiastic about being a friend of America. These people should see how the Americans turn their backs on their servants."

Ayatollah Khamenei referred to the confusion of America and the Zionist regime in the face of the uprising of the people of Egypt and added: "Now they are looking for a way out of this situation, and they have started deception. Of course the success or failure of American and western scenarios depends on the performance and decisions of the people of Egypt."

At the end of his sermons, Ayatollah Khamenei addressed the people of the region in Arabic and said that the current situation of Egypt is a war of wills between the people of Egypt and their enemies. He added: "In this war whichever side has a stronger will is going to win."

Discussing the measures taken by America and the Zionist regime in order to control the current developments in Egypt and put down the uprising of the Egyptian people, the Supreme Leader of the Islamic Revolution said: "They are trying to frustrate the Egyptian people's hopes of fulfilling their goals, but the people of Egypt should rely on God and not doubt the divine promise of assistance even for a moment."



Ayatollah Khamenei said that unity and solidarity are the important weapons of the Egyptian people against their enemies. "The people of Egypt should watch out for the enemies' plots to cause discord. They should continue their uprising in a firm and steadfast manner, relying on God and their valorous youth."

His Eminence called on the people of Egypt to be vigilant against the political recommendations and scenarios of America and the west. He reiterated: "The Americans were supporting Mubarak until a few days ago, but now that they are disappointed at him, they are trying to pretend that they are with the people of Egypt so that they can bring to power the person they have in mind."

The Supreme Leader of the Islamic Revolution described the role of the religious scholars of Egypt, especially the religious scholars of al-Azhar, as very sensitive in the current situation and reiterated: "The religious scholars of Egypt should fulfill their historic role in the uprising of the people of Egypt."

His Eminence also referred to the Egyptian army's involvement in two wars against the Zionist regime and added: "The Egyptian army should fulfill its historic role in the current developments and join the people."



Rahbar Tentang Kebangkitan Umat Islam
01/02/2011

Tahun lalu dalam pertemuan dengan para tokoh perjuangan Palestina tahun lau, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menjelaskan transformasi di kawasan dan isu Palestina. Pada kesempatan itu beliau menegaskan, Allah telah berkehendak bahwa di kawasan ini akan lahir Timur Tengah baru, yaitu Timur Tengah yang Islami.

Berkenaan dengan transformasi terkini di Mesir, Situs Kantor Penerangan dan Dokumentasi Karya Ayatollah al-Udzma Khamenei menerbitkan sebuah kumpulan pandangan Rahbar dalam edisi khusus. Edisi khusus tersebut pada bagian ini membicarakan soal kebangkitan Islam.

Bangsa di Timur Tengah Membenci Amerika

Kita sekarang berada dalam situasi yang benar-benar krusial. Jika saya hendak memaparkan klaim dan persepsi saya soal ini - dalam kesempatan yang terbatas ini mungkin saya tak sempat mengajukan argumentasi, tapi yang jelas saya memiliki argumentasi- maka saya harus menjelaskan bahwa kekuatan-kekuatan arogan dunia sedang mengerahkan segenap upayanya untuk melumpuhkan gerakan Islam yang kini termanifestasi dalam Republik Islam. Dalam banyak kasus mereka sudah mengalami kebuntuan total. Jurus yang paling mereka andalkan di tengah isu-isu global dan polarisasi yang mereka lakukan di Timteng yang notabene kawasan paling vital di muka bumi ini sudah berantakan, atau minimal sudah sangat lemah dan tidak dapat diandalkan lagi.

Semoga Allah Swt merahmati Almarhum Syeikh Husain Lankarani, ulama sekaligus politisi kawakan. Pada sekitar tahun 1974-1975 atau mungkin sebelumnya, beliau mengumpamakan rezim despotik Pahlevi seperti orang yang bertengger di atas kubah besar sambil memegang kantung yang terbuat dari kain sutera berisi biji-bijian buah walnut (sejenis kenari). Salah satu sudut kantung itu bocor sehingga bijian walnut berhamburan satu persatu di permukaan kubah. Dia mencoba bergerak meraih bijian yang berserakan tapi gerakannya justru membuat bijian yang lain berjatuhan dan dia masih tetap ingin bertahan di atas kubah. Padahal seandainya ada di bawah dan di atas permukaan tanah yang rata dia akan dapat dengan mudah meraih dan mengumpulkan lagi bijian yang berjatuhan.

Menurut hemat saya, kekuatan hegemonik dunia sekarang mengalami kondisi serupa ketika berhadapan dengan gerakan Islam. Mereka tidak memiliki pijakan kaki yang kuat sebab sebagian besar trik propaganda mereka yang semula kokoh kini sudah rapuh. Masyarakat di AS sendiri sekarang gusar menyaksikan eskalasi lobi Zionisme di negara ini. Ketidakpuasan ini terjadi secara gradual di AS yang notabene basis gerakan Zionis dan sarang para raksasa kapitalias Zionis. Rezim AS tentu saja sudah berusaha memperkatat ruang gerak rakyatnya dengan trik baru, yaitu menyibukkan publik dengan urusan kehidupan sehari-hari sehingga publik tak sempat berbuat banyak dalam soal ini. Meski begitu, kekecewaan itu tetap saja mengemuka. Data kita tentang ini sangat akurat. Di negara-negara Eropa juga demikian, meskipun polanya berbeda. Sedangkan di negara-negara Islam tentu sudah jelas, apalagi di Timur Tengah. Alhasil, kebencian dan bahkan rasa muak terhadap rezim AS dan para cs-nya di dunia sudah mewabah di tengah bangsa-bangsa dunia. Seperti perumpamaan tadi, wabah ini tak dapat mereka atasi, walaupun mereka sudah bersusah payah untuk mengatasinya.

(Cuplikan Pidato Rahbar di Depan Anggota Basij Dewan Sains Universitas Iran, 23 Juni 2010)



Mereka Tak Mampu Meluruskan Kondisi

Kita sudah semakin kuat dibanding kondisi tiga dekade yang lalu. Kita sudah lebih berpengalaman dan matang. Kemampuan kita juga semakin tinggi. Sementara, kubu lawan semakin lemah. Dulu, seluruh dunia arogansi berbaris dalam satu front untuk melawan Iran. Saat itu, Iran benar-benar tidak memiliki ruang sedikitpun untuk beristirahat. Itulah kondisi pada dekade awal revolusi Islam. Uni Soviet saat itu adalah satu kekuatan besar dunia, bukan hanya sebuah negara tapi sebuah negara serikat yang meliputi banyak negara. Pusatnya adalah kawasan ini tepatnya Rusia hari ini. Kawasan Eropa Timur seluruhnya berada di tangannya. Tak hanya itu, Uni Soviet juga menguasai sebagian besar negara Afrika dan Amerika Latin, juga sebagian negara di benua Asia. Blok kekuatan ini bermusuhan dengan Republik Islam Iran. Saat itu, untuk pengadaan senjata konvensional saja tidak ada tempat yang bisa kita datangi. Artinya, tidak ada negara yang bersedia menjual senjata konvensional misalnya tank kepada kita. Waktu itu saya menjabat sebagai presiden dan untuk keperluan itu saya berkunjung ke Yugoslavia. Mereka nampak akrab dan ramah saat menjamu, namun bagaimanapun kita berusaha membujuk untuk menjual senjata konvensional kepada kita mereka tidak bersedia. Padahal secara lahirnya, Yugoslavia termasuk anggota Gerakan Non Blok, bukan masuk dalam Blok Timur atau Barat. Meski demikian, mereka tidak mau menjual senjata kepada kita. Negara-negara yang lain lebih parah lagi.
Di pihak lain, ada Blok Barat yang iconnya adalah Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Prancis yang saat ini rajin menebar propaganda terhadap kita, saat itu menyuplai pesawat ‘mirage' dan ‘super standar' kepada lawan kita untuk digunakan menyerang kita. Artinya, kejahatan yang mereka lakukan terhadap kita zaman itu lebih besar dibanding saat ini. Jika sekarang para petinggi Jerman -misalnya Kanselir Jerman atau petinggi lainnya di negara itu- melontarkan pernyataan yang menyudutkan kita, saat itu mereka menyuplai Saddam dengan senjata-senjata kimia bahkan membuatkan pabrik senjata kimia untuk rezim Baath. Artinya, permusuhan mereka waktu itu lebih terbuka dan lebih aktif.

Kondisinya sekarang sudah jauh berbeda. Mereka sudah tidak bisa lagi melakukan cara-cara permusuhan seperti dulu. Bukannya mereka sudah berubah baik tapi tidak ada peluang lagi. Dari hari ke hari, bangsa yang besar ini semakin kuat dan matang. Masalah yang penting ini sudah disadari oleh Barat. Mereka merasa hegemoni dan kekuasaannya di Dunia Islam semakin rapuh. Jika dulu mereka merasa bebas melakukan apa saja di negara-negara Islam dan Arab tanpa ada halangan apapun, kini gerak langkah mereka terhenti. Gelombang kebangkitan Islam bahkan telah memaksa mereka untuk mengubah strategi, dan itupun sulit mereka lakukan. Di sebagian negara yang rezimnya secara nyata bergantung kepada Barat, ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan pemerintah di sana terlihat jelas. Ada upaya untuk mengubah strategi supaya ada jalan keluar, tapi mereka tidak menemukan kecuali jalan buntu. Demikianlah kondisi Dunia Barat saat ini.

(Cuplikan Pidato Rahbar dalam Pertemuan dengan Dewan Ahli Kepemimpinan, 16 September 2010)

Tidak Intervensi dalam Urusan Negara Lain

Satu poin cemerlang lagi dalam khittah Imam Khomeini ialah universalitas kebangkitan beliau. Beliau memandang kebangkitan dan revolusi ini sebagai gerakan universal yang berkaitan dengan seluruh umat manusia, khususnya umat Islam. Beliau selalu konsisten pada prinsip ini. Ini sama sekali bukan dalam konteks intervensi urusan internal negara-negara lain dimana kita memang tidak mungkin akan melakukannya. Ini juga bukan berarti ekspor revolusi ala kaum imperialis yang juga tidak akan kita lakukan dan kita memang bukan ahlinya. Sebaliknya, makna dari semua ini ialah berkah dari kebangkitan penuh rahmat ini harus tersebar ke seluruh penjuru dunia, yakni berkah yang sekiranya bangsa-bangsa dunia dapat memahami kewajiban mereka, dan umat Islam dapat menyadari bagaimana dan ada di mana identitas mereka.

(Cuplikan Khutbah Jumat Rahbar Pada Hari Haul ke-21 Imam Khomeini (RA), 4 Juni 2010 M)

Langkah-Langkah Umat Islam yang Mantap

Luasnya gelombang kebangkitan Islam di dunia hari ini adalah hakikat yang meniupkan kabar gembira akan hari esok yang baik bagi umat Islam. Sejak tiga dekade silam, geliat kebangkitan yang agung ini telah terlihat dengan kemenangan revolusi Islam dan pembentukan pemerintahan Repulik Islam. Sejak saat itu, umat Islam terus bergerak maju, menerjang setiap rintangan yang menghadang dan menaklukkan barak demi barak.

Kian pelik dan sistematisnya modus permusuhan kubu arogansi dan upayanya dalam melawan Islam dengan dana raksasa, adalah bukti lain dari kemajuan yang dicapai ini. Propaganda musuh dalam skala luas untuk menebar Islamophobia, tindakan mereka yang tergesa-gesa untuk menciptakan perselisihan antara kelompok-kelompok Islam dan menyulut sentimen madzhab, upaya mereka dalam mengobarkan permusuhan antara Syiah dan Sunni, langkah mereka dalam menebar perseteruan antara negara-negara Islam serta usaha memperuncing perselisihan yang ada dan mengubahnya menjadi permusuhan dan konflik yang tak berkesudahan, pengerahan badan-badan intelijen dan spionase untuk menyuntikkan kebobrokan dan amoralitas di tengah kaum muda, semua itu menunjukkan reaksi kepanikan mereka menghadapi gerakan yang mantap dan langkah umat Islam yang kokoh menuju ke arah kesadaran, kemuliaan dan kebebasan.

(Cuplikan dari Pesan Rahbar untuk Hujjaj di Musim Haji Tahun 1431 Hijriyah)

Ekspor Revolusi

Kita tidak merencanakan untuk mengekspor revolusi. Sebab ekspor revolusi ini terjadi secara langsung dan sudah terwujud. Anda menyaksikan bawha hari ini kecenderungan dan keimanan kepada Islam telah hidup kembali di seluruh penjuru dunia. Anda menyaksikan pula kebangkitan bangsa-bangsa Muslim di kawasan utara Afrika, Timur Tengah, dan seluruh penjuru timur dan barat Dunia Islam. Demikian juga kecenderungan para pemuda di negara-negara Islam kepada keindahan agama dan al-Qur'an. Semua itu menunjukkan bahwa revolusi Islam ini sudah terekspor sejak awal kelahirannya. Kita bukan berpikir untuk mengekspor revolusi di tahun 14 usianya. Revolusi ini sudah terekspor sekali dan sekaligus. Ketika revolusi ini menang dan berita serta daya tariknya menjadi sorotan dunia, apa yang mesti terjadi sudah terjadi saat itu. Dan itulah yang tidak kalian maukan. Itu pula yang membuat kalian berang. Kalian tidak bisa berkutik dan tidak ada yang bisa berbuat apa-apa. Sebab, masalahnya sudah terlambat.



(Cuplikan dari khutbah Idul Fitri 24 Maret 1993)

Masa Depan Milik Umat Islam

Padahal pada masa ketika revolusi Islam menang, Israel di mata pemerintah dan negara-negara Islam, khususnya bangsa Arab, dipandang sebagai rezim yang tak terkalahkan. Hal inilah yang membuat rezim Zionis kini mengetepikan slogan Israel Raya dari Nil hingga Eufrat dan lantas melupakannya. Bangsa-bangsa Muslim -dari Afrika hingga Asia timur- berlomba memikirkan pembentukan sebuah negara dan pemerintahan Islam dengan berbagai format yang tidak mesti sama dengan format Republik Islam milik kita. Namun yang jelas mereka memikirkan kedaulatan Islam di negara mereka. Sejumlah negara berhasil, dan sebagian sedang menantikan masa depan yang cerah lewat gerakan Islam yang mereka lakukan.

(Cuplikan dari Pidato Rahbar pada Peringatan Haul Imam Khomeini RA ke-20, 4 Juni 2009)



Amerika Versus Kekuatan Kubu Islam

Amerika menyadari tak akan punya tempat di masa depan dunia Islam. Karena itu, untuk mencegah kesadaran Islam berubah menjadi gerakan revolusioner, AS melakukan tindakan antisipasi. Dengan berbagai cara, mereka berusaha untuk memperlambat terjadinya apa yang sudah pasti terjadi pada bangsa-bangsa di dunia. Baru-baru para pejabat Amerika mengakui, jika AS tidak mengagresi Irak, rezim Saddam sudah pasti tumbang di tangan orang-orang Irak yang mukmin dan Muslim. Jika itu terjadi, AS tidak akan mendapat bagian. Itulah yang mereka cemaskan. Sikap reaktif itu disebabkan oleh kecemasan mereka akan akibat dari kebangkitan umat di Dunia Islam. Apa yang dilakukan Amerika bukan menunjukkan kekuatannya, tapi sebagai reaksi atas kekuatan di kubu Islam, serta kebangkitan dan kesadaran Islam yang mereka saksikan.

(Cuplikan dari pidato Rahbar di Haram Imam Khomeini RA 4 Juni 2005)

Saturday, February 5, 2011

Dalam Usia 120 Tahun, Syaikh Ali Al-Amri Menutup Usia





Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Syaikh Muhammad Ali al Amri, salah seorang ulama Syiah Arab Saudi, 24 Januari kemarin telah berpulang ke Rahmatullah. Almarhum Ayatullah Syaikh Ali Al Amri yang menetap di Madinah menutup mata di usia 120 tahun. Beliau adalah salah seorang ulama yang telah banyak mengabdikan hidupnya dalam dakwah dan syiar ajaran-ajaran Ahlul Bait. Dalam penyampaian dakwah dan tablighnya, karena bertentangan dengan keyakinan mayoritas warga Saudi, beliau sering mendapat tekanan dan gangguan. Meski demikian, ditengah kecaman dan gangguan dari pihak Wahabi Saudi, beliau dan umat Syiah lainnya di Madinah sering menyelenggarakan acara-acara Syiah di Husainiyah yang didirikannya.




Tablighnya bukan tanpa rintangan, telah berkali-kali Husainiyah tempat ia mengajarkan dan mendakwahkan ajaran Ahlul Bait di tutup secara sepihak oleh pemerintah setempat, bahkan beliau pernah bertahun-tahun mendekam di penjara karena aktivitas dakwahnya tersebut. Ulama besar ini, sekitar 45 tahun usianya ia habiskan dalam penjara Saudi.









Jenazah al Marhum yang mulia dikebumikan di Jannatul Baqi di sisi para Imam Syiah iaitu Saidina Hasan (cucu Rasulullah saw), Imam Ali Zainal Abidin (cicit Rasulullah saw), Imam Baqir (piut Rasulullah saw) dan Imam Sadiq (oneng Rasulullah saw). Jika Syiah difatwa dan diwartakan kafir dan sesat seperti Ayah Pin dan Rasul Kahar mengapakah pihak berkuasa wahabi di Madinah Munawwarah merelakan jenazahnya dikebumikan di Baqi?



Sumber dari Blog Dr Faisal Tehrani dan Abna.ir

Kewafatan Rasulullah Muhammad Al-Mustofa Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaika Ya Rasulullah Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh
Assalamualaika Ya Muhammad Ibna ‘Abdillah
Salam ke atasmu wahai Rasulullah dan rahmat serta barakahNya
Salam ke atasmu Ya Muhammad Bin Abdullah.
Assalamualaika Ya Khiyaratallah Assalamualaika Ya Habiballah
Salam ke atasmu wahai Pilihan Allah
Salam ke atasmu wahai Kekasih Allah.
Assalamualaika Ya Safwatallah Assalamualaika Ya Aminallah
Salam ke atasmu wahai Pilihan Allah
Salam ke atasmu wahai Amin (wahyu) Allah.

Asyhadu Annaka Rasulullah Wa Asyhadu Annaka Muhammad Ibnu ‘Abdillah
Aku bersaksi bahawa engkau adalah Pesuruh Allah dan aku bersaksi bahawa engkau adalah Muhammad Bin Abdullah.

Wa Asyhadu Annaka Qad Nashahta Li Ummatika Wa Jahadta Fi Sabili Rabbik
Dan aku bersaksi bahawa sesungguhnya engkau telah menasihati ummatmu untuk kebaikan dan berjihad di jalan Tuhanmu.

Wa ‘Abadtahu Hatta Atakal Yaqin
Dan engkau menyembahNya sehinggalah yakin (kematian) menemuimu.

Fa Jazakallahu Ya Rasulallahi Afdhala Ma Jaza Nabiyyan ‘An Ummatih
Maka balasan Allah wahai Rasulullah balasan yang terbaik dari pihak sekumpulan ummat kepada nabi mereka.

Allahumma Sholli ‘Ala Muhammadin Wa Aali Muhammad Afdhala Ma Shollaita ‘Ala Ibrahima Wa Aali Ibrahim
Tuhanku sampaikanlah salawat ke atas Muhammad Wa Aali Muhammad salawat yang terbaik yang telah Engkau sampaikan kepada Ibrahim dan Aali Ibrahim.

Innaka Hamidun Majid
Sesungguhnya Engkau Yang Terpuji dan Maha Besar.



Khatimul Anbiya’, Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih dilahirkan pada tahun 571 Masihi bersamaan hari Jumaat, 17 Rabiul Awal di Makkah Al-Mukarramah. Ketika berumur 40 tahun Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah dilantik oleh Allah Subhanahu Wa Taala sebagai seorang Rasul yang menerima wahyu Tuhan, yang juga sebagai hujjah bagi seluruh ummat manusia. Selama 13 tahun Baginda Rasul Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih berjuang dalam menyampaikan agama Islam di Makkah, kemudian disebabkan tekanan yang semakin banyak daripada orang-orang kafir dan musyrikin, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah berhijrah ke Madinah. Selepas 10 tahun bertungkus lumus menyampaikan hukum-hukum Tuhan dan membina pemerintahan Islam buat pertama kali, tibalah saat bagi seorang hamba yang mendambakan Tuhannya mencapai liqa’ yang diimpi, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih pada hari Isnin 28 Safar tahun 11 Hijrah, ketika berumur 63 tahun telah kembali ke alam Malakut dan mengucapkan selamat tinggal pada dunia fana. Makam sucinya di Madinah Munawwarah di sebelah Masjid Nabi yang mana setiap tahun ribuan pencinta Nubuwwah, khususnya pada musim haji, datang daripada seluruh pelusuk dunia untuk menziarahi Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih.

Tahun Sebelas Hijrah, Tahun Terakhir

Pada bulan Muharram tahun kesebelas, sebelum Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih jatuh sakit, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah memerintahkan ummat muslimin supaya bersiap sedia untuk bergerak ke sempadan Rum daripada negeri Syam. Ketika itu sebilangan bukan muslim Jaziratul Arab dan rasul-rasul palsu telah bersedia untuk memerangi Madinah. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah melantik Usamah Bin Zaid Bin Haritsah yang berumur kurang daripada 20 tahun sebagai pemimpin dan juga telah mengarahkan sebahagian sahabat seperti Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Abu Ubaidah Bin Jarah dan Saad Bin Abi Waqas untuk segera bergabung dengan tentera pimpinan Usamah. Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah memberikan bendera kepada pemimpin remaja ini dengan tangan Baginda sendiri dan memerintahkannya : Bergeraklah dengan segera sehinggakan sebelum khabar pergerakanmu sampai kesana, engkau dan para tenteramu telah lebih dahulu sampai disana. Tujuan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih memerintahkan para sahabat yang lebih berumur seperti Abu Bakar dan lain-lain untuk berada dibawah pimpinan seorang remaja untuk memerangi Ampratur Rum ialah supaya selepas daripada ini, tidak ada lagi alasan untuk menjadikan umur seseorang sebagai dalil untuk menolak kepimpinan seseorang.

Timbul persoalan disini, mengapa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih tidak menghantar Amirul Mukminin Ali Alaihissalam bersama mereka? Adakah mereka-mereka yang telah dihantar bersama tentera Usamah lebih mempunyai pengalaman ketenteraan dan keberanian khusus? Jika begitu, mengapa mereka tidak dilantik sebagai pemimpin tentera? Perjalanan ini telah berlanjutan selama hampir dua bulan. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih mengetahui bahawa hari-hari terakhirnya telah semakin hampir, namun Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih masih menekankan sebahagian sahabat untuk meninggalkan Madinah dan bergabung dengan tentera Usamah secepat mungkin.

Namun, malangnya pergerakan yang sangat ditekankan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih ini tidak berjaya, pertamanya dikeranakan pembantahan sebahagian sahabat terhadap kepimpinan Usamah yang masih remaja, kemudian disebabkan alasan persediaan perjalanan dan akhirnya disebabkan sampainya berita berkenaan keadaan kesihatan Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih serta pulangnya Abu Bakar, Umar dan sebahagian yang lain daripada pusat ketenteraan Jurf ke Madinah.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih walau dalam keadaan sakit tenat, demam dan sakit kepala yang mana kain telah diikat di kepala Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih apabila mendengar akan bantahan mereka untuk pergi berperang telah pergi ke masjid dan naik ke mimbar lalu bersabda :

Wahai manusia, terimalah kepimpinan Usamah yang mana aku bersumpah dengan nyawaku jika (sekarang) kalian meragui kepimpinannya yang mana sebelum ini kalian telah meragui kepimpinan ayahnya juga, sedangkan dia mempunyai kelayakan sebagai pemimpin seperti mana ayahnya yang layak untuk makam ini juga.



Selepas daripada hari tersebut, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih sentiasa mengulangi kata-katanya kepada mereka-mereka yang datang menziarahinya dengan kata-kata seperti : (Jahazuu Jaisya Usamah), bersegeralah bergabung dengan tentera Usamah dan gerakkanlah tentera, malah kadang-kadang Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda : (La‘anallah Man Takhallafa ‘An Jaisyi Usamah), laknat Allah ke atas barangsiapa yang meninggalkan tentera Usamah.

Ibnu Abil Hadid meriwayatkan daripada syeikh (ustaz) nya Abu Yaaqub Mu’tazili di dalam syarahan Khutbah 156 Nahjul Balaghah menulis : Apabila Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih semakin bertambah sakit, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mengarahkan tentera Usamah untuk bergerak ke Syam dan memerintahkan Abu Bakar dan lain-lain para pembesar Muhajirin dan Anshar untuk menyertainya. Dalam keadaan ini, jika sesuatu terjadi ke atas Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih,kekhalifahan Ali Alaihissalam tidak akan memiliki banyak halangan.

Usamah disebabkan kesihatan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih dan bantahan ramai terhadap kepimpinannya, telah memohon daripada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih untuk memberi izin kepadanya bergerak bersama para tentera selepas Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih kembali pulih. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih tidak menerima permintaan tersebut lalu bersabda : Pergi sekarang juga. Usamah berkata lagi : Adakah saya perlu bergerak dengan hati yang berat dan risau akan kesihatanmu Ya Rasulullah? Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda : Fikirkan tentang kemenangan! Namun alangkah malang dan dukanya, mereka yang hadir di sisi Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih tidak mengambil perhatian akan perintah Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih dan mereka melebihkan kepentingan peribadi dan cita-cita sendiri.

Wasiat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih Berkenaan Quran dan Itrah

Syeikh Mufid Rahimahullah berkata : ke semua mazhab bersepakat bahawa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih pada hari-hari terakhir hidupnya telah bersabda :

Wahai manusia aku (pada hari kiamat) akan mendahului kalian dan kalian akan mengikutiku sehingga ke telaga Kautsar, ketahuilah aku akan menyoal kalian akan Tsaqalain (dua benda yang bernilai yang telah aku tinggalkan kepada kalian) dan menghakimi (perlakuan kalian terhadap keduanya). Maka lihatlah bagaimana perlakuan kalian terhadap kedua itu selepasku, kerana Allah Subhanahu Wa Taala telah mengkhabarkan kepadaku bahawa kedua itu tidak akan berpisah antara satu sama lain sehinggalah bertemu denganku, aku juga telah memohon perkara yang sama daripada Tuhanku serta Dia telah menunaikannya, ketahuilah bahawa aku telah meninggalkan kepada kalian dua benda : pertama Kitab Allah dan kedua Itrahku, keluargaku. Janganlah membelakangi mereka yang mana dengan itu kalian akan berpecah belah, janganlah meringankan perkara berkenaan mereka kerana kalian akan musnah, janganlah mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui daripada kalian, wahai kumpulan manusia janganlah selepas pemergianku, kalian kembali kepada kekufuran dan berpecah antara satu sama lain…

Ketahuilah Ali Bin Abi Thalib adalah saudara dan wasiku, berperanglah (berusahalah) dalam memperlajari Al-Quran sebagaimana aku berperang dalam menyampaikannya…

Syeikh Mufid Rahimahullah berkata : Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mengulang perkara yang sama pada banyak majlis dan pertemuan.

Khutbah Terakhir Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih di Masjid Madinah

Kesihatan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih hari ke hari semakin tenat dan berdasarkan riwayat Ibnu Hashim dan yang lain , Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bagi mengurangkan demam dan kepanasan badannya supaya mampu untuk pergi ke masjid bagi melakukan pertemuan dan perpisahan terakhir dengan ummatnya, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah memohon untuk mengambil tujuh bekas air daripada telaga-telaga yang pelbagai di Madinah dan menyiram badannya dengan air-air tersebut, kemudian Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mengikat kain di kepalanya dan dengan satu tangan diletakkan di atas bahu Amirul Mukminin Ali Alaihissalam dan tangan yang lain di atas bahu Fadhl Bin Abbas, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah pergi ke masjid, kemudian duduk di atas mimbar dan berdasarkan riwayat Syeikh Mufid dan Thabarsi Rahimahumalllah, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah bersabda :

Wahai manusia, telah hampir waktunya untuk aku meninggalkan kalian, maka barangsiapa yang memiliki amanat disisiku, datanglah supaya aku dapat membayarnya, dan barangsiapa yang telah memberikan kepadaku pinjaman atau hutang, beritakan padaku, wahai manusia tidak ada sesuatu di antara Tuhan dan hamba-hambanya yang menjadi punca kebaikan dan menghalang keburukan kecuali amal dan perbuatannya, Aku bersumpah ketahuilah bahawa aku telah dipilih dengan kebenaran dan nubuwwah, tidak akan selamat seseorang kecuali amal baik dan Rahmat Allah Subhanahu Wa Taala. Ketahuilah aku yang merupakan RasulNya, jika mengingkariNya maka aku juga akan masuk ke neraka! Wahai Tuhanku adakah aku telah menyampaikan apa yang perlu aku sampaikan!?.

Kemudian Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih turun daripada mimbar dan menunaikan solat pendek dengan mengimami ummatnya, lalu pergi ke rumah Ummu Salamah, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih berada di bilik Ummu Salamah selama satu atau dua hari, kemudian Aisyah telah datang ke sisi Ummu Salamah dan memohon untuk membawa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih ke biliknya dan mengambil tangunggjawab menjaga Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih, para isteri Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih juga bersetuju dengan cadangan tersebut, lalu Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah dibawa ke bilik Aisyah.

Ketika subuh, dan seperti hari yang lain, azan terdengar berkumandang mengajak manusia untuk menunaikan solat, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda : Hari ini orang lain perlu menggantikan aku untuk mengimami solat.

Aisyah berkata : Beritahulah Abu Bakar untuk pergi, dan Hafshah berkata : Beritahulah Umar untuk pergi. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih yang telah mendengar kata-kata mereka dan kesungguhan mereka yang menginginkan supaya ayahanda merekalah yang dihantar ke masjid dalam keadaan yang mana Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih masih lagi hidup, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih lalu bersabda kepada mereka :

Bertenanglah! kalian umpama wanita-wanita yang bersama Yusuf.

Oleh kerana bimbang mereka berdua akan pergi ke masjid, (walaupun sebelum ini Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mengarahkan mereka supaya pergi bersama Usamah untuk berperang dengan Rum) dengan keadaan yang sangat lemah malah Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih tidak mampu walau untuk berdiri dengan kakinya sendiri, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih seperti hari sebelumnya telah menyandar ke bahu Ali Alaihissalam dan Fadhl Bin Abbas, dan dengan kaki yang mengheret tanah, Baginda telah pergi ke masjid. Abu Bakar yang telah melihat Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah bersegera ke masjid dan sebelum Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih tiba, dia telah mendahului ke mihrab. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih lalu telah mengisyaratkan dengan tangan dan mengarahkannya untuk mengundur ke belakang, kemudian Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih sendiri mengambil tempatnya, berdiri di mihrab dan menunaikan solat, selepas salam Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih kembali pulang ke rumah. Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih memanggil Abu Bakar, Umar dan kumpulan yang berada di masjid lalu bersabda kepada mereka :

Bukankah aku telah mengarahkan kalian untuk pergi bersama tentera Usamah? Mereka menjawab : Benar wahai Rasulullah? Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda : Lalu mengapa kalian tidak mengamalkan perintahku dan tidak pergi bersamanya?

Abu Bakar berkata : Aku telah pergi namun kembali pulang supaya aku dapat melihatmu sekali lagi. Umar berkata : Wahai Rasulullah, aku tidak pergi kerana aku tidak suka untuk bertanyakan keadaanmu daripada para musafir? Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih lalu bersabda tiga kali : (Nafazuu Jaisya Usamah), bergabunglah dengan tentera Usamah!



Disinilah disebabkan kesihatan yang lemah dan ditambah dengan kekecewaan akan perlakuan ummat, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah jatuh pengsan, ketika ini terdengar suara tangisan ummat Islam,wanita-wanita dan keluarga Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih kembali sedar dan memandang orang-orang disekelilingnya lalu bersabda :
“iituni Bedawat Wa Katf Li Aktubu Lakum Kitaban La Tadhallu Badahu Abada”

Bawakan aku pen dan kertas supaya aku dapat menulis untuk kalian sebuah surat yang mana selepas itu kalian tidak akan pernah sesat.

Sebahagian dari yang hadir telah bangun supaya dapat membawakan apa yang telah diminta oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih, tetapi Umar telah menghalangnya dan berkata : Kembalilah, sesungguhnya Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih tidak sedar apa yang sedang diucapkannya! Cukuplah disisi kita Kitab Allah.

Terdengar perbualan diantara hadirin yang hadir ketika itu, sebahagian berkata : Pergilah dan bawakanlah apa yang telah diminta, sebahagian yang lain menyebelahi Umar dan menghalang daripada melakukannya, keadaan menjadi bising dan huru hara, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih menjadi murka dan berkata : Bangunlah sesungguhnya perselisihan ini tidak layak untuk dilakukan dihadapan Rasululullah. Didalam riwayat lain :

Wahai Rasulullah, mahukah tuan kami bawakan pen dan kertas tersebut? Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda : Adakah selepas semua kata-kata yang telah kalian lafazkan?! Kemudian Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih memalingkan wajahnya daripada mereka dan dengan itu Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah menyatakan ketidak senangan Baginda akan kehadiran mereka.

Mereka telah bangun dan yang tinggal hanya orang-orang terdekat Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih seperti Ali Alaihissalam, Abbas serta puteranya Fadhl dan keluarga Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih yang lain. Mereka juga pergi selepas beberapa ketika. Telah diriwayatkan bahawa : Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda : Bawakan saudaraku dan pakcikku. Ketika Ali Alaihissalam dan Abbas telah datang, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih memandang pakciknya dan bersabda :

Pakcikku, adakah pakcik akan menerima wasiatku, dan mengamalkan perjanjian-perjanjianku, dan membayar hutang-hutangku. Abbas berkata : Wahai Rasulullah, aku adalah lelaki tua dan engkau adalah seorang lelaki sangat pemurah, bagaimanakah aku mampu untuk memegang tanggungjawab atas semua perjanjian-perjanjianmu?

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih memandang Ali Alaihissalam dan bersabda : Wahai saudaraku, adakah kamu akan menerima wasiatku? Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih mengulangi apa yang telah disabdakan tadi…? Ali Alaihissalam berkata : Ya wahai Rasulullah. Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih lalu bersabda : Jikalau begitu, dekatilah aku. Ali Alaihissalam datang ke hadapan dan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih lalu memeluknya dan menanggalkan cincin di jarinya serta bersabda : Ambillah ini dan pakailah ia, kemudian Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah meminta pedang, penghalang dan baju perang lalu memberikannya kepada Ali Alaihissalam begitu juga sehelai kain khusus yang sentiasa diikat di dada Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih ketika berperang dan bersabda :
Semua ini dengan nama Tuhan, bawalah ke rumahmu.

Hari berikutnya, keadaan Rasulullah semakin tenat dan Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah jatuh pengsan, segala pertemuan dengan Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih tidak lagi dibenarkan. Ketika kembali sedar Rasul Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah bersabda : Bawakan kepadaku saudara dan penolongku, kemudian Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih kembali tidak sedarkan diri, Aisyah berkata : Bawakan Abu Bakar bertemunya, Abu Bakar telah datang namun ketika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih membuka mata dan melihatnya, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih memalingkan wajahnya, Abu Bakar selepas melihat perlakuan itu, bangun dan berkata : Jika Baginda memerlukan aku, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih pasti akan bersabda kepadaku. Ketika Abu Bakar telah pergi, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih kembali mengulangi kata-kata yang sama dan bersabda : Bawakan kepadaku saudara dan penolongku, Hafshah berkata : Bawakan Umar ke sisi Baginda. Umar telah datang tetapi Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih sebaik sahaja melihatnya, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah memalingkan wajahnya, setelah itu Umar juga bangun dan pergi. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih mengulangi sabda Baginda kali ketiga : Bawakan kepadaku saudara dan penolongku. Ummu Salamah bangun dan berkata : Bawakan Ali kepada Baginda yang mana Baginda hanya menginginkan Beliau, Ummu Salamah membawakan Ali Alaihissalam ke sisi pembaringan Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih dan apabila mata Baginda terpandang Beliau Alaihissalam, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mengisyaratkan untuk maju kehadapan, Ali Alaihissalam mendekati Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih dan membongkokkan kepalanya mendekati dada Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bercakap dengan Beliau Alaihissalam lama dan secara khusus, ketika itu, Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih sekali lagi tidak sedarkan diri, Amirul Mukminin Ali Alaihissalam lalu bangun dan duduk di satu sudut, kemudian Beliau Alaihissalam keluar daripada bilik tersebut. Ketika mereka bertanya kepada Beliau Alaihissalam : Apa yang dikatakan oleh Rasulullah kepadamu?, Beliau Alaihissalam menjawab :

‘Allamani Alfa Babin Minal ‘Ilm Fataha Li Kullu Babin Alfa Babin Wa Aushoni Bi Ma Ana Qaim Bihi InsyaAllah

Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mengajarku seribu pintu ilmu yang mana telah dibukakan setiap pintu seribu pintu yang lain untukku. Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mewasiatkan kepadaku kepada sesuatu yang insyaAllah aku akan mengamalkannya.

Ketika telah tiba detik-detik terakhir, detik seorang hamba akan kembali menemui Rabnya, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah bersabda kepada Ali Alaihissalam : Wahai Ali, letakkan kepalaku di pangkuanmu kerana perintah Tuhan telah sampai, ketika nyawaku telah diambil, letakkanlah badanku ke arah qiblah, mandikan daku, sembahyanglah untukku serta kafankan daku dan janganlah berpisah dariku sehinggalah engkau telah kebumikanku. Ali Alaihissalam meletakkan kepala Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih di atas pangkuannya dan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih kembali tidak sedarkan diri.

Fatimah Salamullah Alaiha yang berada disisi mereka yang juga melihat kejadian tersebut, kini tidak mampu lagi menahan diri, lalu datang kesisi Ayahanda dan memeluknya lalu menangis dan membaca syair ini :

Wa Abyadhu Yastasqa Al-Ghamam Biwajhih
Tsumalul Yatami ‘Ismatu Lil Arami.

Puteriku, ini adalah kata-kata pakcikmu Abu Thalib, jangan berkata sebegitu katakanlah :
Wa Ma Muhammadun Illa Rasulun Qad Khalat Min Qablihil Rusulu Afaim Mata Au Qatalan qalabtum ‘Ala A’qabikum.

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang.

Fatimah Salamullah Alaiha menangis teresak-esak, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mengisyaratkan untuk mendekatinya apabila melihat puteri kesayangannya sedang menangis, ketika itu Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mengatakan sesuatu secara perlahan yang mana telah menyebabkan wajah Beliau Salamullah Alaiha kembali ceria dan kemudian Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih menghembuskan nafas terakhirnya.

Terdapat riwayat menyatakan bahawa kemudian Fatimah Salamullah Alaiha telah ditanya : Apakah yang telah dikatakan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih kepadamu yang telah menghilangkan kesedihan dan kedukaanmu?

Beliau Salamullah Alaiha berkata : Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah mengkhabarkan daku bahawa orang pertama daripada keluarga Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih yang akan bergabung bersamanya adalah aku dan jarak kematianku dengannya tidak terlalu panjang, disebabkan ini kesedihan dan kedukaanku terubat.

Berdasarkan riwayat-riwayat mahsyur diantara para perawi hadis Syiah, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah wafat pada hari isnin 28 bulan Safar. Tetapi disisi Ahli Sunnah, riwayat mahsyur adalah pada 12 Rabiul Awal. Ketika itu Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah berumur 63 tahun.

Oleh kerana Amirul Mukminin ingin memandikan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih mengikut wasiat yang telah diberikan kepadanya, Beliau Alaihissalam telah memanggil Fadhl Bin Abbas supaya dapat membantunya. Beliau Alaihissalam mengarahkan Fadhl supaya menutup matanya dan hanya memberikan air kepada Beliau Alaihissalam, Ali Alaihissalam telah memandikan, meletakkan hunuth dan mengafankan Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih, kemudian Beliau Alaihissalam telah menyembahyangkan jenazah Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih seorang diri, selepas itu, Beliau Alaihissalam keluar daripada rumah dan memandang semua ummat kemudian berkata :
Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih ketika hidup dan wafatnya adalah imam dan pemimpin kita, sekarang datanglah berkumpulan-berkumpulan untuk menyembahyangkannya. Kemudian, Beliau Alaihissalam telah mengarahkan Abbas Bin Abdul Muthalib untuk pergi ke sisi Abu Ubaidah Jarah yang merupakan orang yang menggali kubur untuk penduduk Makkah supaya dia dapat menggali kubur untuk jenazah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih. Kubur Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih telah digali di bilik yang sama ketika Rasul Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih wafat dan dimakamkan di sana.
Ketika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih ingin dimakamkan telah terdengar daripada belakang rumah, orang-orang Anshar Madinah telah bersuara : Ya Ali, demi Tuhan janganlah kamu melupakan hak kami, benarkanlah salah seorang daripada kami juga untuk menolong mengebumikan Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih supaya kami juga dapat mengikut berbangga akan perkara ini. Ali Alaihissalam telah mengizinkan Aus Bin Khauli, salah seorang daripada mereka yang menyertai perang Badar dan dia merupakan salah seorang daripada pembesar Qabilah Bani Auf. Aus telah masuk ke dalam rumah, lalu Imam Alaihissalam berkata kepadanya :

Masuk lah ke dalam kubur, Ali Alaihissalam telah mengangkat jenazah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih dan memberikannya kepada Aus, lalu Aus meletakkannya di atas tanah, kemudian Ali Alaihissalam berkata : Sekarang keluarlah dari sana, selepas itu, Amirul Mukminin Alaihissalam telah masuk ke dalam kubur dan membuka ikatan kafan di sebelah kepala lalu meletakkan pipi Baginda Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih di atas tanah, kemudian mereka meletakkan tanah sehinggalah badan suci Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih selesai dimakamkan.

Solawatullah ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihit Thoyyibanat Thohirinal Ma’sumin Wa Laknatullahu ‘Ala A’da-ihim Ajma‘in Minal Aan Ila Yaumiddin.



Telah bersabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih:

1. Seumpama Bahtera Nabi Nuh as

Al-Suyuti dalam kitabnya Ihya al-Mait bi Fadail Ahlul Bait meriwayatkan dari al-Bazaar meriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkata: Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda yang bermaksud:

" Perumpamaan Ahlul Baitku ibarat Bahtera Nuh. Sesiapa yang ikut berlayar bersamanya dia akan selamat, dan sesiapa yang enggan dan terlambat, dia akan tenggelam." [ Ibnu Hajar, Zawaid Musnad al-Bazzar, hlm.277; Al-Tabrani, al-Mu'jam al-Kabir, Juzuk I, hlm.168 ]

2. Bintang Keselamatan

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Musaddad dalam musnadnya, al-Hakim, al-Tirmidzi dalam Nawadir al-Usul, Abu Ya'la dan al-Tabrani dari Salamah bin al-Akwa' dia berkata: Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda yang bermaksud:

" Bintang-bintang di langit adalah petunjuk keselamatan bagi penghuni langit dan Ahlul Baitku adalah penyelamat umatku." [Al-Hakim, al-Mustadrak, Juzuk III, hlm.457]

3. Mencegah dari Kesesatan

Al-Tirmidzi meriwayatkan sebuah Hadith dari Jabir ia berkata: Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda yang bermaksud:

" Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian apa yang mencegah kalian dari kesesatan selama kalian berpegang teguh dengannya iaitu Kitab Allah dan Itrahku, Ahlul Baitku." [Al-Tirmidzi, Sahih, Bab Manaqib Ahlul Bait al-Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih, Juzuk 22, hlm. 308]

4. Model kepada Anak-anak
Al-Dailami meriwayatkan dari ‘Ali Alaihissalam, beliau berkata bahawa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda:

" Didiklah putra-putrimu tiga perkara - Kecintaan kepada Nabimu, kecintaan kepada Ahlul Baitnya dan membaca al-Quran. Sesungguhnya pembawa al-Quran berada di bawah naungan Allah pada hari di mana tiada naungan kecuali naungan-Nya bersama para Nabi dan para (Asfiya') orang-orang pilihan-Nya." [Kanzul Ummal, Juzuk VIII, hlm.278]

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Aalih bersabda: “Hanyasanya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak"

Khidmat Imam Zaman Ajjalallahu Farajah
Ya Aba Soleh Eltimasi Doa